Monday, December 19, 2005

 

Gerard Reynst (1614-1615)


Van Gerard Reynst (kadang disebut Gerrit Reynst) lahir di Amsterdam Belanda, tanggal lahir dan tahunnya tidak diketahui. Pada tahun 1599, Reynst merupakan seorang saudagar dan pemilik kapal, dia juga merupakan pendiri (medeoprichter) dan komisaris dari perusahaan dagang Nieuwe of Brabantsche Compagnie, Perusahaan ini pada tahun 1601 beraliansi dengan perusahaan lain membentuk persatuan dagang Amsterdam (Verenigde Compagnie van Amsterdam), dan pada tahun 1602 membentuk Persatuan Dagang Hindia Timur (Verenigde Oostindische Compagnie – VOC). Berdasarkan keputusan dari para koleganya yang juga pemegang saham VOC (de Heren XVII), Reynst diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 20 Februari 1613. Pada tanggal 2 Juni 1613 berangkat dengan armada yang terdiri dari 9 kapal dan dikomandani oleh Steven van der Haghen, yang kemudian menjadi anggota Raad van Indie (Dewan Hindia). Perjalanan yang ditempuh hingga mencapai pantai Banten cukup lama lebih dari 1 tahun. Pada tanggal 6 November 1614 Reynst mengambil alih kekuasaan VOC di Hindia Belanda dari Pieter Both, pada saat yang sama juga Reynst mengirimkan armadanya ke Laut Merah untuk negosiasi dagang dengan Bangsa Arab.

Salah satu tugas yang diterima Reynst adalah mengangkat pendeta dan guru untuk bangsa Belanda yang tinggal di Banten, dan juga mencari tempat yang cocok untuk kegiatan tersebut. Penunjukkan pendeta dan guru saat itu memang diperlukan karena sebagian besar bangsa Belanda yang tinggal di Banten banyak yang menganggur dan tidak punya ketrampilan, hal ini disebabkan kurangnya kontrol dari pusat. Reynst banyak menghabiskan waktunya di Maluku dan tinggal di kapal. Peristiwa penting yang terjadi saat pemerintahan Reynst adalah pendudukan Pulau Ai di Kepulauan Banda untuk mengusir Inggris dan mengontrol monopoli pala di pulau itu.

Reynst berangkat ke Pulau Ai dengan kekuatan sebanyak 900 orang tentara, jumlahnya dua kali lipat dari laki-laki yang ada di pulau itu. Pertempuran terjadi sepanjang malam, akhirnya Inggris melarikan diri dari pulau itu dengan sebelumnya melakukan bumi hangus terhadap ladang-ladang pala di seluruh pulau. Besoknya tentara Reynst mendapat serangan hebat dari para penduduk Banda dengan menggunakan meriam, 200 tentara VOC tewas akibat serangan ini. Walaupun mendapat serangan hebat, Reynst akhirnya bisa menaklukan Pulau Ai hingga pulau Seram. Tahun 1615 dia kembali ke Banten, pada tahun yang sama Reynst membuat persetujuan dagang dengan Pangeran Indragiri, Riau.

Gubernur Jenderal Gerard Reynst adalah orang pertama yang mengusulkan perbudakan di tanah Hindia Belanda, tahun 1615 dia mengirimkan sejumlah besar orang Maluku, Ambon dan Banda untuk dikirim ke Banten dan Jayakarta. Alasannya adalah pekerjaan yang dilakukan oleh para budak lebih cepat dan ongkosnya sangat murah bila dibandingkan dengan para tentara dan pelaut VOC. Salah satu pekerjaan para budak ini adalah memperbaiki Factorij (Gudang merangkap Kantor) Nassau dan membangun Gudang Mauritius di Jayakarta dengan batu coral, untuk memperkuat VOC dari serangan Inggris dan juga menyimpan rempah-rempah sebelum dikirim ke Negeri Belanda

Saat Gerard Reynst meninggalkan Banten menuju Jayakarta, beliau terkena serangan disentri dan meninggal dunia tanggal 7 Desember 1615 di dalam Factorij Nassau, Jayakarta, Reynst dimakamkan di Portugese Buitenkerk – Gereja Portugis di luar benteng (tidak jelas disebutkan apakah yang dimaksud Gereja Portugis itu adalah gereja Sion sekarang karena gereja ini baru berdiri tahun 1693, atau Gereja Portugis yang ada di dalam benteng – yang sampai abad 19 masih berdiri). Penggantinya adalah Laurens Reael.

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?