Friday, December 23, 2005

 

Jacques Specx (1629 – 1632)

Jacques Specx

Jacques Specx adalah orang Belanda yang namanya selain dikenal di Indonesia juga dikenal di pesisir timur Asia, mulai dari Johor, Pattani, Formosa hingga Nagasaki Jepang. Sebelum menceritakan tentang sejarah Jacques Specx, ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang keberadaan bangsa Belanda di Jepang terutama periode 1600-1641, karena hal ini secara tidak langsung berhubungan nantinya dengan Jacques Specx dan skandal Sarah Specx - Pieter Cortenhoeff.

VOC di Jepang

Kontak pertama bangsa Belanda dengan bangsa Jepang dimulai pada tanggal 19 April 1600, saat itu sebuah armada Belanda yang terdiri dari 5 kapal (De Liefde, Gheloove, Blijde Bootschap, Trouw, Hoope) berangkat dari Rotterdam di tahun 1598 dengan tujuan membeli rempah-rempah di Maluku dan mengadakan hubungan dagang dengan Jepang, selain itu mereka juga diberi tugas tambahan menyerang dan merampok armada Portugis dan Spanyol di rute laut Amerika Selatan dan Asia. Dari seluruh kapal, hanya De Liefde yang berhasil mendarat di Jepang, sementara 4 kapal lainnya gagal mendarat karena dihantam kapal Portugis dan Spanyol.
Armada Kapal VOC ke Jepang

Kapal yang dikomandani oleh orang Inggris William Adams dan wakilnya Jan Joosten van Lodensteijn ini mendarat di wilayah Usuki di Prefektur Oita (dahulu bernama Bungo). Pimpinan militer di Jepang saat itu, Tokugawa Ieyasu, menunjukkan minat yang tinggi terhadap kapal Belanda, terutama persenjataannya. Adams dan Joosten diminta untuk mengajarkan teknologi ini, dan diminta tinggal di Usuki. Sebagian dari awak kapal mulai berdagang dan menikahi wanita lokal. Kemampuan mereka membaca peta, navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan menyebabkan William Adams dan Jan Joosten terkenal di kalangan petinggi militer Jepang.
Pada tahun 1603 Belanda diijinkan berdagang oleh Tokugawa Ieyasu, pada saat itu dia sudah menjadi Shogun. Perlu diketahui pada tahun 1602, pengusaha Belanda sudah membuat serikat dagang VOC, dan misi dari VOC selain berdagang adalah diberi wewenang oleh pemerintah kerajaan Belanda untuk melakukan kontak dengan penguasa asing. Ijin dagang ini dipergunakan oleh VOC pada tahun 1605 ke Patanni Thailand. Surat ijin dagang yang kedua diberikan oleh penguasa Jepang kepada VOC dengan kewenangan yang lebih luas, VOC berhak melakukan perdagangan dari semua pelabuhan di Jepang, dan kapal-kapal Belanda bebas keluar masuk perairan Jepang.
Pada tahun 1609 mendaratlah dua kapal Belanda yang membawa delegasi VOC ke Jepang. Mereka mendarat di Hirado dan setelah menyampaikan surat resmi dari Maurits, Putra Mahkota Belanda, bangsa Belanda secara resmi berhak mendirikan kantor dagang disana. Kantor dagang pertama didirikan di Hirado yang terletak di barat laut P. Kyushu, tidak jauh dari Nagasaki.
Kantor VOC di Hirado

Pada periode 1600-1641, Belanda dapat menjelajahi seluruh negeri Jepang dengan bebas dan dapat kontak dengan siapapun di Jepang, mereka mendirikan tempat pengecoran logam. Bangsa Belanda sangat terkesan dengan kualitas dan kompetensi bangsa Jepang, yang akhirnya sering disewa oleh Belanda untuk ditempatkan diseluruh koloninya. Pada awalnya perdagangan dengan Jepang tidak begitu menguntungkan karena minimnya kontak dengan pos-pos VOC lainnya di luar Jepang. Apalagi Belanda tidak mempunyai pusat perdagangan di China sehingga tidak bisa mensuplai sutera ke Jepang. Problem ini diatasi dengan cara membajak kapal-kapal Portugis. Portugispun melakukan protes, dijawab Jepang dengan melarang adanya pembajakan diseluruh perairan Jepang.
Untuk dapat mempertahankan kekuasaan VOC di Jepang, maka Belanda melakukan intervensi pada semua urusan di Jepang tidak hanya dagang tetapi juga politik. Melihat adanya ancaman campur tangan dari pihak asing, maka Shogun secara bertahap menerapkan kebijakan yang membatasi hubungan dengan pihak asing, baik dengan Portugis dan Belanda. Tahun 1614 Tokugawa Ieyasu melakukan larangan penyebaran agama Kristen dan mengusir seluruh misionaris dan penduduk Jepang Kristen dari Jepang. Larangan ini diterapkan dengan tegas dan banyak Jepang Kristen yang dibunuh dan sebagian lari atau mengungsi. Tahun 1621 penduduk Jepang dilarang meninggalkan negaranya dan menumpang kapal asing tanpa kartu pas, dan segera setelah itu seluruh penduduk Jepang dilarang meninggalkan negaranya. Tahun 1639, anak yang dilahirkan dengan bapaknya orang asing dan ibunya orang Jepang, harus diusir dari Jepang. Salah satunya adalah anak dari pemimpin kamar dagang VOC di Jepang, Cornelia van Nijenroode yang diusir ke Batavia. Dan setelah pergi tidak boleh berhubungan lagi dengan bangsa Jepang selamanya.
Untuk membatasi hubungan dengan Portugis, para shogun menetapkan sebuah pulau untuk mereka. Nama pulau itu adalah Deshima dan Portugis tinggal di pulau itu dari tahun 1636 sampai 1639. Yang akhirnya diusir dari pulau itu karena dianggap ikut membantu pemberontak Kristen pada saat revolusi Shimabara. Kemudian pulau Deshima yang kosong diberikan kepada Belanda. Belanda tinggal di pulau itu dari tahun 1640 dan tinggal di pulau itu hingga 200 tahun.

Jacques Specx

Jacques Specx dilahirkan sekitar tahun 1585 di Dordrecht, selatan Belanda. Pada 1606, dia ditugaskan oleh VOC untuk berlayar ke Hirado, Jepang. Pada tahun 1606 dia tiba di Jepang dengan menumpang kapal Griffioen, setelah sebelumnya tinggal di Kesultanan Johor. Tahun 1609 Specx menjadi opperkoopman dan membangun kantor dagang pertama di Hirado dan menjabat sebagai kepala perdagangan. Dengan posisi ini, dia juga merupakan pendiri VOC di Jepang. Specx menduduki jabatan ini hingga tahun 1613, kemudian dia digantikan oleh Hendrik Brouwer. Tahun 1614 dia kembali menduduki jabatan ini hingga tahun 1621. Tahun 1622 dia pergi ke Batavia dan menjadi Presiden Schepenen. Pada tahun itu juga, tepatnya tanggal 9 September 1622, dia menjadi Konsul luar biasa untuk Hindia dan pada tahun 1624 Specx menjadi commissaris politiek (komisaris politik) pada konsul gereja di Batavia.
Pada tahun 1627 Specx meninggalkan Batavia karena dipanggil oleh Heeren XVII di Negeri Belanda untuk urusan yang berhubungan dengan perdagangan di Jepang dan China. Pada tanggal 25 Oktober 1628 dia ditunjuk oleh Heeren XVII menjadi Konsul Pertama untuk koloni Hindia. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1629, Specx dengan istrinya pergi ke Hindia menggunakan kapal Hollandia. Dalam perjalanan ini Specx menjadi komandan armada. Pada tanggal 28 Januari kapalnya membuang sauh di Duins dan bergabung dengan tiga kapal dari Zeeland. Kapal mengalami kerusakan karena angin ribut, dan pada tanggal 17 Februari Specx melanjutkan perjalanannya dengan diiringi delapan kapal. Specx mendarat di Batavia pada tanggal 23 September 1629, tepat dua hari setelah Jan Pietersz. Coen wafat.

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Specx ditunjuk oleh Dewan Hindia sebagai Gubernur Jenderal dan mulai bertugas pada tanggal 25 September 1629. Penunjukkan ini dilakukan ditengah kepungan tentara Mataram. Sejak bulan Agustus 1629 Kastil Batavia dikepung oleh lebih dari 100.000 tentara Mataram untuk kedua kalinya. Pengepungan ini berakhir pada tanggal 1 November 1629. Setelah itu Specx baru bisa bekerja secara normal.

Penunjukkan Specx menjadi Gubernur Jenderal menjadi kontroversial, karena penunjukkan beliau sebagai Gub Jen dilakukan tanpa persetujuan Heeren XVII. Heeren sendiri tidak mengakui penunjukkan Specx tersebut, dan memanggil pulang pada tanggal 17 Maret 1629. Salah satu alasan dari Heeren tidak ingin menjadikan Specx menjadi Gubernur Jenderal adalah karena kasus Sarah Specx.

Sarah Specx adalah anak dari hasil hubungan gelap dengan wanita Jepang saat Specx bertugas di Hirado tahun 1609 – 1613, Sarah tinggal di Batavia atas permintaan dari istri JP Coen, Eva Ment, sebagai teman ngobrol. Sarah sendiri sebetulnya dalam posisi yang sulit, Pada tahun 1620-an Tokugawa Ieyasu sudah melakukan pembatasan-pembatasan terhadap warga asing dan warga kristen. Sarah diusir dari Jepang, sementara bagi Specx, tidak mungkin Sarah dibawa kembali ke Belanda, karena dia merupakan anak haram bagi istrinya. Jadi saat Eva meminta seorang teman, Specx dengan senang hati menitipkan anaknya.

Kemudian pada suatu malam, Sarah dipergoki sedang bermesraan dengan vaandrig (kadet) Pieter Cortenhoeff di dalam rumah Coen. Tindakan ini membuat malu JP. Coen dan menghukum Sarah dengan hukuman cambuk untuk Sarah sementara kekasihnya Pieter Cortenhoeff dihukum pancung. Hukuman yang diberikan kepada Sarah telah membuat Jacques Specx berang, karena bagaimanapun juga Sarah masih dibawah umur. Sebagai balasannya Specx melarang anggota Dewan Keadilan (Raad van Justicie), yang mengabulkan hukuman terhadap Sarah, untuk ikut dalam perjamuan suci, pada saat itu tindakan Specx merupakan hukuman yang keras dan mencoreng martabat anggota yang dihukum. Kemungkinan keras tindakan Specx tersebut yang dijadikan alasan oleh Heeren untuk tidak mengakui Jacques Specx sebagai Gubernur Jenderal. Pada tanggal 27 September 1632, Jacques Specx digantikan oleh Hendrik Brouwer. Pada tanggal 3 Desember, Specx menjadi komandan armada dengan kapal komando Prins Willem pulang ke Belanda bersama keluarganya. Hendrik Brouwer mengantarnya sampai ke Selat Sunda. Pada saat perjalanan pulang Specx sempat menduduki pulau St. Helena dan menjadikan pulau itu provinsi dari Kerajaan Belanda. Pada bulan Juli 1633, dia tiba di Belanda.

Selama menjabat menjadi Gubernur Jenderal, Specx melakukan banyak perubahan di Batavia, terutama membentuk Kali Besar yang tadinya berkelok, dibuat lurus agar dapat melewati Kota. Seperti JP. Coen, Specx juga dikenal sebagai orang Belanda yang dekat dengan bangsa Cina, dan menganggap bangsa Cina berperan penting dalam pembangunan Batavia. Saat pengunduran dirinya dari jabatan Gubernur Jenderal, seorang Kapiten Cina (Siauw Beng Kong) memberikan hadiah berupa medali yang bergambar peta Batavia, sebagai penghargaan atas perlindungan yang diberikan kepada komunitasnya selama menjabat sebagai Gubernur Jenderal

Tidak diketahui kapan dan dimana Jacques Specx meninggal dunia.

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?