Monday, December 19, 2005

 

Laurens Reael (1614-1619)

Laurens Reael

Laurens Reael lahir tanggal 22 Oktober 1583 di Amsterdam, Belanda. Dari sejak kecil, beliau mendapat pendidikan yang sangat baik. Pada tahun 1608 Reael menjadi sarjana di bidang hukum dari Universitas Leiden.

Perjalanan karir Laurens Reael ini termasuk cemerlang. Pada bulan Mei 1611, Reael menjadi komandan armada yang terdiri dari 4 kapal untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara. Sesampainya di Banten, beliau langsung ditunjuk oleh Gubernur Jenderal Pieter Both menjadi anggota Dewan Hindia (Raad van Indië) – tahun 1612. Pada tanggal 3 Agustus 1613 dia ditunjuk sebagai wakil gubernur untuk wilayah Maluku, Ambon dan Banda. Pada awal tahun 1615 menjadi gubernur wilayah kepulauan Maluku. Setelah kematian Gubernur Jenderal Gerard Reynst pada tanggal 7 Desember 1615, Reael ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal oleh Dewan Hindia, untuk mengisi kekosongan kekuasaan VOC di Nusantara. Pada tanggal 19 Juni 1616, Laurens Reael memilih tinggal di Ternate sebagai tempat kerjanya, dan untuk menfokuskan pekerjaannya sebagai gubernur jenderal, dia minta kenaikan budget secara drastis sebagai gaji para pegawai VOC di Hindia Belanda. Permintaan ini menyebabkan para petinggi VOC dalam Heren XVII meminta Reael untuk mengundurkan diri pada tanggal 31 Oktober 1617 (sumber lain menjelaskan bahwa Reael yang meminta pengunduran diri). Masalah perbedaan gaji ini hanya salah satu point yang membuat Reael mengundurkan diri. Penyebab utamanya adalah perbedaan pandangan yang tajam antara Reael dengan para petinggi VOC di Negeri Belanda terhadap warga pribumi Nusantara. Reael sebenarnya menginginkan bahwa fokus utama VOC saat itu adalah melawan intervensi Inggris yang akan menguasai perdagangan di Maluku. Selain itu beliau adalah pejabat pertama yang mengkritik kebijakan petinggi VOC terhadap para penduduk asli Maluku dengan menerbitkan aturan hongi tochten*. Dia dan teman karibnya Steven van der Haghen berpendapat bahwa tujuan VOC berada di Nusantara adalah untuk menjalankan misi dagang dan diplomatik yang tidak disertai kekerasan dan kekejaman terhadap penduduk pribumi. Protes ini akhirnya memang tidak ditanggapi oleh Heren XVII, apalagi setelah datang penggantinya Jan Pieterszoon Coen.

Selama pemerintahan Laurens Reael, VOC lebih banyak melakukan peperangan dengan pihak asing seperti bertempur dengan koloni Spanyol di teluk Manila tahun 1617, mencegah mendaratnya Inggris di Banten dan Maluku, sempat bentrok dengan pasukan Mataram di Jepara. Pada tanggal 21 Maret 1619 Laurens Reael menyerahkan jabatannya kepada Jan Pieterszoon Coen, dan kemudian pulang ke Belanda dan tidak kembali lagi ke Nusantara hingga akhir hayatnya.

Setiap pejabat VOC yang kembali ke negaranya harus membuat laporan pekerjaannya dan diserahkan kepada petinggi VOC di Den Haag. Laurens Reael membuat laporan selama pemerintahannya di Hindia Belanda pada bulan Januari 1620. Dalam laporannya dia menjelaskan tentang perhatiannya pada peperangan di Maluku termasuk juga kekejaman yang diluar batas yang dilakukan oleh bangsa Belanda di Maluku dianggap dia sebagai tindakan yang tidak bisa diterima oleh bangsa beradab.

Walaupun banyak perbedaan pendapat dengan Heren XVII, Reael diberi juga penghargaan oleh mereka berupa gouden medaille met inscriptie. Karena walau bagaimanapun Reaels tetap memberikan keuntungan bagi VOC. Reaels akhirnya banyak menghabiskan waktunya di bidang seni sastra (beliau menjadi anggota Muiderkring – perkumpulan penggemar sastra di abad 17). Pada tanggal 9 Juni 1625, beliau diangkat menjadi ketua kamar dagang Amsterdam. Hingga akhir hayatnya beliau tetap menjadi administratur VOC walaupun sering absen karena kegiatannya yang mewakili kerajaan Belanda di luar negeri. Dari tahun 1625 – 1627 Reael menjadi admiral untuk armada angkatan laut kerajaan Belanda. Tahun 1626 melakukan misi diplomatik ke Inggris mewakili Belanda untuk bertemu raja Inggris Charles I. Tahun 1627 saat menjalankan misi kenegaraan di Denmark, beliau mengalami kecelakaan saat akan kembali ke Belanda, kapalnya tenggelam di lepas pantai Jutland – Denmark, beliau selamat dan sempat menjalankan pengobatan di Wina Austria. Tahun 1630 beliau menjadi anggota Dewan Kerajaan di Amsterdam. Laurens Reael meninggal dunia karena sakit pada tanggal 21 Oktober 1637 di Amsterdam


*HONGI TOCHTEN, yaitu tindakan penghukuman VOC atas penduduk Maluku, termasuk Banda, dimana VOC melakukan pembakaran dan pemusnahan atas tanaman rempah-rempah disitu, serta melakukan teror terhadap penduduk di wilayah tersebut untuk membikin stabil harga rempah-rempah di pasaran Amsterdam, jangan sampai merosot disebabkan oleh “overpruduksi” di Indonesia Timur. Demi keuntungan yang melimpah-ruah VOC tidak segan-segan untuk melakukan tindakan kekerasan, melakukan pembunuhan, penindasan dan melancarkan perang. Belum lagi penggunaan orang Indonesia, untuk dipekerjakan sebagai budak-budak di pelbagai perkebunan pala, cengkeh, merica dll. Begitu menyoloknya tindakan biadab yang dilakukan oleh VOC, sampai-sampai salah seorang gubernur VOC di Maluku, bernama Laurens Reael, karena tidak tahan melihat kebiadaban tindakan VOC terhadap rakyat Maluku, beberapa bulan saja sessudah diangkat menjadi pejabat, segera minta keluar. Ia melakukan kecaman keras terhadap pemerintah Belanda. Mantan gubernur Laurens Reael adalah pejabat tinggi Belanda pertama yang menentang praktek jahat VOC. Praktek-praktek VOC menurut Rick van de Broeke, salah seorang keturunan dari kekuasaan VOC dulu, merupakan lembaran hitam dalam sejarah Belanda. Menurut mantan gubernur Laurens Reael dalam suratnya kepada direksi VOC di Holland ketika itu, tindakan-tindakan VOC yang melakukan perampokan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang-orang Indonesia, telah membikin orang-orang Belanda terkenal di seluruh Hindia (Indonesia) sebagai bangsa yang paling kejam di seluruh dunia.

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?