Tuesday, December 20, 2005

 

Pieter de Carpentier (1623 - 1627)


Pieter de Carpentier lahirdi Antwerpen Belgia pada tahun 1588. Tidak lama setelah orang tuanya pindah dari bagian selatan Belanda. Pieter belajar di Leiden dan setelah lulus dia bergabung dengan VOC dan mendapatkan pangkat saudagar tinggi (opperkoopman). Pada tanggal 23 Januari 1616 pergi menuju Hindia (Indonesia) dengan menumpang kapal “Trouw”. Di Hindia Pieter cepat akrab dengan Gubernur Jenderal Coen dan menjadi orang kepercayaannya. Pada tahun 1619, dia menjadi ketua Dewan Hindia dan direktur jenderal VOC. Pada tahun 1620, Pieter menjadi anggota Dewan Pertahanan (Raad van Defensie). Pieter juga membantu menyerang benteng Jayakarta dengan mengerahkan enam belas kapal, yang akhirnya Jayakarta bisa direbut dan dirubah namanya menjadi Batavia.
Tanggal 8 September 1622 dia ditunjuk oleh Heeren XVII untuk menjadi Gubernur Jenderal dan pada tanggal 1 Februari 1623 dia mengambil alih pimpinan VOC di Hindia dari Jan Pietersz. Coen. Semasa pemerintahannya, dia melanjutkan program yang sudah dibuat oleh Coen, yaitu memperluas wilayah Batavia dan menguatkan posisi VOC di benua Asia. Perbedaannya hanyalah tindak-tanduknya lebih bijaksana dibandingkan Coen.
Pembantaian Ambon
Peristiwa penting yang terjadi pada saat pemerintahan Pieter adalah terjadinya peristiwa “Pembantaian Ambon”, peristiwa ini sangat jarang dijelaskan di bangku sekolah di Indonesia, karena yang bertikai bukan antara penjajah dengan bangsa Indonesia, melainkan pertikaian antar bangsa asing. Pembantaian Ambon (Ambonse Moord) dilatar belakangi perseteruan antar Kelompok Dagang Hindia Timur yaitu Inggris dan Belanda di Maluku. VOC sudah menetapkan pusat perdagangannya di Pulau Ambon, Kepulauan Maluku sejak tahun 1609, setelah sebelumnya mengusir bangsa Portugis. Sementara British East India Company membuat stasiun transit dekat Cambello (Kambelo dalam bahasa Indonesia) P. Seram pada tahun 1615
Pada tahun 1619 Inggris dan Belanda menandatangani Pakta Pertahanan yang mengijinkan Inggris membeli sepertiga rempah-rempah di Maluku, sementara dua pertiga dibeli oleh Belanda. Tetapi, di lapangan Belanda sendiri tidak begitu menghargai perjanjian ini dan konflik pun terus berlanjut. Apalagi di saat bersamaan Inggris bisa memukul mundur Belanda di Jayakarta dan sempat menawan pejabat tinggi VOC di sana.
Kemudian, bangsa Belanda di Ambon menyangka bahwa Inggris telah melakukan penyerangan kepada bangsa mereka dan membunuh Gubernur Jenderal. Kemudian Belanda menyerang dan mengepung kantor dan gudang milik East Indian Company pada tahun 1623. Dibawah perintah Gubernur Maluku saat itu van Speult, mereka menyiksa 10 orang pejabat Inggris yang terjebak di kantor dan sembilan orang asistennya yang merupakan bangsa Jepang. Mereka disiksa dengan cara di bakar dan ditenggelamkan, sebagian lagi menggunakan bubuk mesiu yang ditaburkan di kaki dan lengannya, kemudian diledakkan sehingga hancur seluruh tangan dan kakinya. Beberapa yang mencoba melarikan diri dari pembantaian ini akhirnya ditangkap dan dibunuh. Penyiksaan ini dilakukan di benteng Victoria.
Penyiksaan ini menjadi kasus nasional di Inggris. Untuk membalas perlakuan Belanda, Inggris sempat menangkap kapal-kapal Belanda saat melewati selat Inggris, yang berlayar dari Maluku ke Negeri Belanda. Setelah Pembantaian Ambon ini, Inggris berkurang minatnya untuk menguasai Hindia Timur (Indonesia), dan perjanjian tahun 1619 dibatalkan. Kemudian Inggris memfokuskan kedudukannya di benua Asia, persisnya di Semenanjung Hindustan (India dan sekitarnya). Sebagai catatan Inggris pernah mencoba menyerang kembali Ambon sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1796 dan 1810. Tetapi penyerangan tersebut dikalahkan oleh Belanda.
Peristiwa lain di Maluku adalah pemberlakuan kembali Hongi Tochten Stelsel pada tahun 1625, yang sebelumnya sempat dibekukan oleh Gubernur Jenderal Laurens Reael. Isi dari Hongi Tochten Stelsel ini meliputi penghancuran dan pembakaran kebun-kebun cengkeh rakyat, tanam paksa dan kerja paksa. Kebijakan ini menimbulkan pemberontakan rakyat Maluku di Hararuku sehingga timbul perang besar yang dikenal dengan perang Alaka (1625-1637).
Kebijakan de Carpentier lainnya adalah, untuk mengatur kehidupan para penduduk di Batavia, dia mendirikan sekolah dan balaikota, mendirikan lembaga kepolisian berikut perangkat hukumnya, mendirikan rumah anak yatim piatu dan juga gereja. Untuk semua fasilitas tersebut dia membuat aturan perpajakan bagi penduduknya dengan alasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan hukum.
Pada tanggal 30 September 1627, de Carpentier menyerahkan jabatannya kepada Jan Pietersz. Coen. Pada tahun 1628, dia kembali ke Negeri Belanda dan menjadi admiral dari armada angkatan laut Belanda. Dia menolak ditawari posisi Gubernur Jenderal yang kedua kalinya di Hindia dan memilih menjadi petinggi VOC dan menjadi bagian dari Heeren XVII. Pada tahun 1629 dan 1632 ia dikirim ke Inggris sebagai duta VOC untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di Hindia Timur.
Pieter de Carpentier meninggal dunia pada tanggal 5 September 1659 di Amsterdam

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?