Friday, December 23, 2005

 

Jacques Specx (1629 – 1632)

Jacques Specx

Jacques Specx adalah orang Belanda yang namanya selain dikenal di Indonesia juga dikenal di pesisir timur Asia, mulai dari Johor, Pattani, Formosa hingga Nagasaki Jepang. Sebelum menceritakan tentang sejarah Jacques Specx, ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang keberadaan bangsa Belanda di Jepang terutama periode 1600-1641, karena hal ini secara tidak langsung berhubungan nantinya dengan Jacques Specx dan skandal Sarah Specx - Pieter Cortenhoeff.

VOC di Jepang

Kontak pertama bangsa Belanda dengan bangsa Jepang dimulai pada tanggal 19 April 1600, saat itu sebuah armada Belanda yang terdiri dari 5 kapal (De Liefde, Gheloove, Blijde Bootschap, Trouw, Hoope) berangkat dari Rotterdam di tahun 1598 dengan tujuan membeli rempah-rempah di Maluku dan mengadakan hubungan dagang dengan Jepang, selain itu mereka juga diberi tugas tambahan menyerang dan merampok armada Portugis dan Spanyol di rute laut Amerika Selatan dan Asia. Dari seluruh kapal, hanya De Liefde yang berhasil mendarat di Jepang, sementara 4 kapal lainnya gagal mendarat karena dihantam kapal Portugis dan Spanyol.
Armada Kapal VOC ke Jepang

Kapal yang dikomandani oleh orang Inggris William Adams dan wakilnya Jan Joosten van Lodensteijn ini mendarat di wilayah Usuki di Prefektur Oita (dahulu bernama Bungo). Pimpinan militer di Jepang saat itu, Tokugawa Ieyasu, menunjukkan minat yang tinggi terhadap kapal Belanda, terutama persenjataannya. Adams dan Joosten diminta untuk mengajarkan teknologi ini, dan diminta tinggal di Usuki. Sebagian dari awak kapal mulai berdagang dan menikahi wanita lokal. Kemampuan mereka membaca peta, navigasi, pembuatan kapal dan persenjataan menyebabkan William Adams dan Jan Joosten terkenal di kalangan petinggi militer Jepang.
Pada tahun 1603 Belanda diijinkan berdagang oleh Tokugawa Ieyasu, pada saat itu dia sudah menjadi Shogun. Perlu diketahui pada tahun 1602, pengusaha Belanda sudah membuat serikat dagang VOC, dan misi dari VOC selain berdagang adalah diberi wewenang oleh pemerintah kerajaan Belanda untuk melakukan kontak dengan penguasa asing. Ijin dagang ini dipergunakan oleh VOC pada tahun 1605 ke Patanni Thailand. Surat ijin dagang yang kedua diberikan oleh penguasa Jepang kepada VOC dengan kewenangan yang lebih luas, VOC berhak melakukan perdagangan dari semua pelabuhan di Jepang, dan kapal-kapal Belanda bebas keluar masuk perairan Jepang.
Pada tahun 1609 mendaratlah dua kapal Belanda yang membawa delegasi VOC ke Jepang. Mereka mendarat di Hirado dan setelah menyampaikan surat resmi dari Maurits, Putra Mahkota Belanda, bangsa Belanda secara resmi berhak mendirikan kantor dagang disana. Kantor dagang pertama didirikan di Hirado yang terletak di barat laut P. Kyushu, tidak jauh dari Nagasaki.
Kantor VOC di Hirado

Pada periode 1600-1641, Belanda dapat menjelajahi seluruh negeri Jepang dengan bebas dan dapat kontak dengan siapapun di Jepang, mereka mendirikan tempat pengecoran logam. Bangsa Belanda sangat terkesan dengan kualitas dan kompetensi bangsa Jepang, yang akhirnya sering disewa oleh Belanda untuk ditempatkan diseluruh koloninya. Pada awalnya perdagangan dengan Jepang tidak begitu menguntungkan karena minimnya kontak dengan pos-pos VOC lainnya di luar Jepang. Apalagi Belanda tidak mempunyai pusat perdagangan di China sehingga tidak bisa mensuplai sutera ke Jepang. Problem ini diatasi dengan cara membajak kapal-kapal Portugis. Portugispun melakukan protes, dijawab Jepang dengan melarang adanya pembajakan diseluruh perairan Jepang.
Untuk dapat mempertahankan kekuasaan VOC di Jepang, maka Belanda melakukan intervensi pada semua urusan di Jepang tidak hanya dagang tetapi juga politik. Melihat adanya ancaman campur tangan dari pihak asing, maka Shogun secara bertahap menerapkan kebijakan yang membatasi hubungan dengan pihak asing, baik dengan Portugis dan Belanda. Tahun 1614 Tokugawa Ieyasu melakukan larangan penyebaran agama Kristen dan mengusir seluruh misionaris dan penduduk Jepang Kristen dari Jepang. Larangan ini diterapkan dengan tegas dan banyak Jepang Kristen yang dibunuh dan sebagian lari atau mengungsi. Tahun 1621 penduduk Jepang dilarang meninggalkan negaranya dan menumpang kapal asing tanpa kartu pas, dan segera setelah itu seluruh penduduk Jepang dilarang meninggalkan negaranya. Tahun 1639, anak yang dilahirkan dengan bapaknya orang asing dan ibunya orang Jepang, harus diusir dari Jepang. Salah satunya adalah anak dari pemimpin kamar dagang VOC di Jepang, Cornelia van Nijenroode yang diusir ke Batavia. Dan setelah pergi tidak boleh berhubungan lagi dengan bangsa Jepang selamanya.
Untuk membatasi hubungan dengan Portugis, para shogun menetapkan sebuah pulau untuk mereka. Nama pulau itu adalah Deshima dan Portugis tinggal di pulau itu dari tahun 1636 sampai 1639. Yang akhirnya diusir dari pulau itu karena dianggap ikut membantu pemberontak Kristen pada saat revolusi Shimabara. Kemudian pulau Deshima yang kosong diberikan kepada Belanda. Belanda tinggal di pulau itu dari tahun 1640 dan tinggal di pulau itu hingga 200 tahun.

Jacques Specx

Jacques Specx dilahirkan sekitar tahun 1585 di Dordrecht, selatan Belanda. Pada 1606, dia ditugaskan oleh VOC untuk berlayar ke Hirado, Jepang. Pada tahun 1606 dia tiba di Jepang dengan menumpang kapal Griffioen, setelah sebelumnya tinggal di Kesultanan Johor. Tahun 1609 Specx menjadi opperkoopman dan membangun kantor dagang pertama di Hirado dan menjabat sebagai kepala perdagangan. Dengan posisi ini, dia juga merupakan pendiri VOC di Jepang. Specx menduduki jabatan ini hingga tahun 1613, kemudian dia digantikan oleh Hendrik Brouwer. Tahun 1614 dia kembali menduduki jabatan ini hingga tahun 1621. Tahun 1622 dia pergi ke Batavia dan menjadi Presiden Schepenen. Pada tahun itu juga, tepatnya tanggal 9 September 1622, dia menjadi Konsul luar biasa untuk Hindia dan pada tahun 1624 Specx menjadi commissaris politiek (komisaris politik) pada konsul gereja di Batavia.
Pada tahun 1627 Specx meninggalkan Batavia karena dipanggil oleh Heeren XVII di Negeri Belanda untuk urusan yang berhubungan dengan perdagangan di Jepang dan China. Pada tanggal 25 Oktober 1628 dia ditunjuk oleh Heeren XVII menjadi Konsul Pertama untuk koloni Hindia. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1629, Specx dengan istrinya pergi ke Hindia menggunakan kapal Hollandia. Dalam perjalanan ini Specx menjadi komandan armada. Pada tanggal 28 Januari kapalnya membuang sauh di Duins dan bergabung dengan tiga kapal dari Zeeland. Kapal mengalami kerusakan karena angin ribut, dan pada tanggal 17 Februari Specx melanjutkan perjalanannya dengan diiringi delapan kapal. Specx mendarat di Batavia pada tanggal 23 September 1629, tepat dua hari setelah Jan Pietersz. Coen wafat.

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Specx ditunjuk oleh Dewan Hindia sebagai Gubernur Jenderal dan mulai bertugas pada tanggal 25 September 1629. Penunjukkan ini dilakukan ditengah kepungan tentara Mataram. Sejak bulan Agustus 1629 Kastil Batavia dikepung oleh lebih dari 100.000 tentara Mataram untuk kedua kalinya. Pengepungan ini berakhir pada tanggal 1 November 1629. Setelah itu Specx baru bisa bekerja secara normal.

Penunjukkan Specx menjadi Gubernur Jenderal menjadi kontroversial, karena penunjukkan beliau sebagai Gub Jen dilakukan tanpa persetujuan Heeren XVII. Heeren sendiri tidak mengakui penunjukkan Specx tersebut, dan memanggil pulang pada tanggal 17 Maret 1629. Salah satu alasan dari Heeren tidak ingin menjadikan Specx menjadi Gubernur Jenderal adalah karena kasus Sarah Specx.

Sarah Specx adalah anak dari hasil hubungan gelap dengan wanita Jepang saat Specx bertugas di Hirado tahun 1609 – 1613, Sarah tinggal di Batavia atas permintaan dari istri JP Coen, Eva Ment, sebagai teman ngobrol. Sarah sendiri sebetulnya dalam posisi yang sulit, Pada tahun 1620-an Tokugawa Ieyasu sudah melakukan pembatasan-pembatasan terhadap warga asing dan warga kristen. Sarah diusir dari Jepang, sementara bagi Specx, tidak mungkin Sarah dibawa kembali ke Belanda, karena dia merupakan anak haram bagi istrinya. Jadi saat Eva meminta seorang teman, Specx dengan senang hati menitipkan anaknya.

Kemudian pada suatu malam, Sarah dipergoki sedang bermesraan dengan vaandrig (kadet) Pieter Cortenhoeff di dalam rumah Coen. Tindakan ini membuat malu JP. Coen dan menghukum Sarah dengan hukuman cambuk untuk Sarah sementara kekasihnya Pieter Cortenhoeff dihukum pancung. Hukuman yang diberikan kepada Sarah telah membuat Jacques Specx berang, karena bagaimanapun juga Sarah masih dibawah umur. Sebagai balasannya Specx melarang anggota Dewan Keadilan (Raad van Justicie), yang mengabulkan hukuman terhadap Sarah, untuk ikut dalam perjamuan suci, pada saat itu tindakan Specx merupakan hukuman yang keras dan mencoreng martabat anggota yang dihukum. Kemungkinan keras tindakan Specx tersebut yang dijadikan alasan oleh Heeren untuk tidak mengakui Jacques Specx sebagai Gubernur Jenderal. Pada tanggal 27 September 1632, Jacques Specx digantikan oleh Hendrik Brouwer. Pada tanggal 3 Desember, Specx menjadi komandan armada dengan kapal komando Prins Willem pulang ke Belanda bersama keluarganya. Hendrik Brouwer mengantarnya sampai ke Selat Sunda. Pada saat perjalanan pulang Specx sempat menduduki pulau St. Helena dan menjadikan pulau itu provinsi dari Kerajaan Belanda. Pada bulan Juli 1633, dia tiba di Belanda.

Selama menjabat menjadi Gubernur Jenderal, Specx melakukan banyak perubahan di Batavia, terutama membentuk Kali Besar yang tadinya berkelok, dibuat lurus agar dapat melewati Kota. Seperti JP. Coen, Specx juga dikenal sebagai orang Belanda yang dekat dengan bangsa Cina, dan menganggap bangsa Cina berperan penting dalam pembangunan Batavia. Saat pengunduran dirinya dari jabatan Gubernur Jenderal, seorang Kapiten Cina (Siauw Beng Kong) memberikan hadiah berupa medali yang bergambar peta Batavia, sebagai penghargaan atas perlindungan yang diberikan kepada komunitasnya selama menjabat sebagai Gubernur Jenderal

Tidak diketahui kapan dan dimana Jacques Specx meninggal dunia.

Tuesday, December 20, 2005

 

Pieter de Carpentier (1623 - 1627)


Pieter de Carpentier lahirdi Antwerpen Belgia pada tahun 1588. Tidak lama setelah orang tuanya pindah dari bagian selatan Belanda. Pieter belajar di Leiden dan setelah lulus dia bergabung dengan VOC dan mendapatkan pangkat saudagar tinggi (opperkoopman). Pada tanggal 23 Januari 1616 pergi menuju Hindia (Indonesia) dengan menumpang kapal “Trouw”. Di Hindia Pieter cepat akrab dengan Gubernur Jenderal Coen dan menjadi orang kepercayaannya. Pada tahun 1619, dia menjadi ketua Dewan Hindia dan direktur jenderal VOC. Pada tahun 1620, Pieter menjadi anggota Dewan Pertahanan (Raad van Defensie). Pieter juga membantu menyerang benteng Jayakarta dengan mengerahkan enam belas kapal, yang akhirnya Jayakarta bisa direbut dan dirubah namanya menjadi Batavia.
Tanggal 8 September 1622 dia ditunjuk oleh Heeren XVII untuk menjadi Gubernur Jenderal dan pada tanggal 1 Februari 1623 dia mengambil alih pimpinan VOC di Hindia dari Jan Pietersz. Coen. Semasa pemerintahannya, dia melanjutkan program yang sudah dibuat oleh Coen, yaitu memperluas wilayah Batavia dan menguatkan posisi VOC di benua Asia. Perbedaannya hanyalah tindak-tanduknya lebih bijaksana dibandingkan Coen.
Pembantaian Ambon
Peristiwa penting yang terjadi pada saat pemerintahan Pieter adalah terjadinya peristiwa “Pembantaian Ambon”, peristiwa ini sangat jarang dijelaskan di bangku sekolah di Indonesia, karena yang bertikai bukan antara penjajah dengan bangsa Indonesia, melainkan pertikaian antar bangsa asing. Pembantaian Ambon (Ambonse Moord) dilatar belakangi perseteruan antar Kelompok Dagang Hindia Timur yaitu Inggris dan Belanda di Maluku. VOC sudah menetapkan pusat perdagangannya di Pulau Ambon, Kepulauan Maluku sejak tahun 1609, setelah sebelumnya mengusir bangsa Portugis. Sementara British East India Company membuat stasiun transit dekat Cambello (Kambelo dalam bahasa Indonesia) P. Seram pada tahun 1615
Pada tahun 1619 Inggris dan Belanda menandatangani Pakta Pertahanan yang mengijinkan Inggris membeli sepertiga rempah-rempah di Maluku, sementara dua pertiga dibeli oleh Belanda. Tetapi, di lapangan Belanda sendiri tidak begitu menghargai perjanjian ini dan konflik pun terus berlanjut. Apalagi di saat bersamaan Inggris bisa memukul mundur Belanda di Jayakarta dan sempat menawan pejabat tinggi VOC di sana.
Kemudian, bangsa Belanda di Ambon menyangka bahwa Inggris telah melakukan penyerangan kepada bangsa mereka dan membunuh Gubernur Jenderal. Kemudian Belanda menyerang dan mengepung kantor dan gudang milik East Indian Company pada tahun 1623. Dibawah perintah Gubernur Maluku saat itu van Speult, mereka menyiksa 10 orang pejabat Inggris yang terjebak di kantor dan sembilan orang asistennya yang merupakan bangsa Jepang. Mereka disiksa dengan cara di bakar dan ditenggelamkan, sebagian lagi menggunakan bubuk mesiu yang ditaburkan di kaki dan lengannya, kemudian diledakkan sehingga hancur seluruh tangan dan kakinya. Beberapa yang mencoba melarikan diri dari pembantaian ini akhirnya ditangkap dan dibunuh. Penyiksaan ini dilakukan di benteng Victoria.
Penyiksaan ini menjadi kasus nasional di Inggris. Untuk membalas perlakuan Belanda, Inggris sempat menangkap kapal-kapal Belanda saat melewati selat Inggris, yang berlayar dari Maluku ke Negeri Belanda. Setelah Pembantaian Ambon ini, Inggris berkurang minatnya untuk menguasai Hindia Timur (Indonesia), dan perjanjian tahun 1619 dibatalkan. Kemudian Inggris memfokuskan kedudukannya di benua Asia, persisnya di Semenanjung Hindustan (India dan sekitarnya). Sebagai catatan Inggris pernah mencoba menyerang kembali Ambon sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1796 dan 1810. Tetapi penyerangan tersebut dikalahkan oleh Belanda.
Peristiwa lain di Maluku adalah pemberlakuan kembali Hongi Tochten Stelsel pada tahun 1625, yang sebelumnya sempat dibekukan oleh Gubernur Jenderal Laurens Reael. Isi dari Hongi Tochten Stelsel ini meliputi penghancuran dan pembakaran kebun-kebun cengkeh rakyat, tanam paksa dan kerja paksa. Kebijakan ini menimbulkan pemberontakan rakyat Maluku di Hararuku sehingga timbul perang besar yang dikenal dengan perang Alaka (1625-1637).
Kebijakan de Carpentier lainnya adalah, untuk mengatur kehidupan para penduduk di Batavia, dia mendirikan sekolah dan balaikota, mendirikan lembaga kepolisian berikut perangkat hukumnya, mendirikan rumah anak yatim piatu dan juga gereja. Untuk semua fasilitas tersebut dia membuat aturan perpajakan bagi penduduknya dengan alasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan hukum.
Pada tanggal 30 September 1627, de Carpentier menyerahkan jabatannya kepada Jan Pietersz. Coen. Pada tahun 1628, dia kembali ke Negeri Belanda dan menjadi admiral dari armada angkatan laut Belanda. Dia menolak ditawari posisi Gubernur Jenderal yang kedua kalinya di Hindia dan memilih menjadi petinggi VOC dan menjadi bagian dari Heeren XVII. Pada tahun 1629 dan 1632 ia dikirim ke Inggris sebagai duta VOC untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di Hindia Timur.
Pieter de Carpentier meninggal dunia pada tanggal 5 September 1659 di Amsterdam

Monday, December 19, 2005

 

Jan Pieterszoon Coen (1619 – 1623) & (1627 – 1629)


Jan Pieterszoon Coen


Jan Pieterszoon Coen merupakan Gubernur Jenderal VOC yang memiliki banyak keunikan dibandingkan gubernur jenderal lainnya. Beberapa diantaranya adalah Coen merupakan salah satu dari sedikit gubernur jenderal VOC – Hindia Belanda yang biografinya tercantum dalam Ensiklopedia Britannica, Coen juga merupakan satu-satunya pejabat Belanda yang menduduki jabatan gubernur jenderal hingga dua kali. Coen juga dianggap oleh para sejarawan barat sebagai salah satu tokoh kontroversial di Hindia Belanda. Tindakan-tindakan yang dianggap kontroversi adalah peristiwa pembantaian rakyat Banda tahun 1621 dan skandal Sarah Specx – Pieter Coertenhoff di Batavia. Sebagai catatan, peristiwa Banda tahun 1621 adalah tindakan ‘genocide’ pertama yang dilakukan bangsa Belanda kepada rakyat Indonesia.
Jan Pieterszoon Coen (selanjutnya ditulis JP Coen) lahir di kota Hoorn Belanda pada tanggal 8 Januri 1587. Tahun 1601 dia pergi belajar berdagang di kota Roma. Kemudian dia bekerja di kantor milik Justus Pescatore. Tahun 1607 dia menjadi pegawai VOC dengan pangkat asisten saudagar (onderkoopman) dan pergi ke Hindia (Indonesia) dengan menumpang kapal “Hoorn”. Tahun 1612 dia naik pangkat menjadi saudagar tinggi (operkoopman) dan komandan dari kapal Galiasse saat pelayaran ke dua. Pada bulan Oktober 1613 dia ditunjuk sebagai akuntan – jenderal (boekhouder-generaal) yang membawahi seluruh kantor cabang VOC hingga kantor pusat di Hindia yang berpusat di Banten dan Jayakarta, yang nantinya bernama Batavia. Banten adalah pusat kegiatan administrasi dan pelayanan VOC di Hindia. Antara penguasa Banten dengan VOC sebetulnya kurang baik karena pihak keraton Banten melihat VOC sangat dominan dalam mengurus perdagangan dengan pihak asing yang juga merupakan pelanggan dari Kerajaan Banten. Tahun 1614 JP Coen menjabat sebagai Direktur Jenderal, jabatan tertinggi kedua setelah Gubernur Jenderal. Pada tanggal 25 Oktober 1617 Heren XVII menunjuk JP Coen sebagai Gubernur Jenderal menggantikan Laurens Reael yang telibat clash dengan mereka. JP Coen menerima penunjukkan itu pada tanggal 30 April 1618, dan menjalani masa transisi hingga tanggal 21 Maret 1619.
Begitu menjabat sebagai Gubernur Jenderal, langkah pertama Coen adalah membangun sebuah markas besar (headquarter) VOC yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan kepentingan VOC di Hindia. Banten tidak menarik bagi Coen karena pertentangannya dengan bangsa Cina, Banten dan juga Inggris. Sedangkan Maluku terlalu kecil untuk dijadikan kantor pusat, selain itu Coen tetap menginginkan Jawa sebagai kedudukan kantor pusatnya karena sangat mudah untuk logistik pangan. Akhirnya Coen memilih Jayakarta sebagai pusat pemerintahannya karena di Jayakarta pula terdapat gudang dan loji VOC yang berdiri sejak tahun 1610. Karena Pangeran Jayakarta tidak menghendaki kehadiran Coen di Jayakarta, Coen memperkuat diri dengan membangun benteng di sekitar Istana Jayakarta. Tanggal 18 Januari 1621 Coen dan tentaranya berhasil mengusir Pangeran Jayakarta dan pengikutnya, kemudian dia merubah nama Jayakarta menjadi Batavia.
Langkah kedua JP Coen adalah merealisasikan monopoli pembelian pala di Hindia. Pala merupakan komoditas rempah-rempah yang hanya ada di Kepulauan Banda. Saat itu penduduk Banda menandatangani persetujuan penjualan pala kepada VOC dan juga Inggris. Untuk menguasai pala di pulau itu Coen menggunakan cara keras dan brutal.
Pembantaian Banda 1621
Latar belakang pemusnahan etnis ini disebabkan karena ketidakmampuan bangsa Belanda menjual pala lebih murah dibandingkan dengan Inggris bahkan dengan penduduk lokal pun masih lebih mahal, padahal Belanda sudah mengontrol Maluku selama 20 tahun. Akhirnya para petinggi VOC mencoba membuat program untuk bisa memonopoli perdagangan pala di Pulau Banda. JP Coen kemudian mengambil tugas ini dan beranggapan bahwa hanya dengan mengusir dan melenyapkan penduduk asli pulau Banda, monopoli pala baru bisa dilakukan.
Pertama –tama Coen dan serdadunya memaksa penduduk Banda (dibawah todongan senjata) untuk mau menandatangani kontrak perdagangan pala hanya dengan VOC tidak dengan Inggris. Tidak semua penduduk Banda mau mematuhi perjanjian tersebut, diam-diam mereka juga menjual Pala kepada Inggris dan ditukar dengan senjata, untuk memerangi kesewenang-wenangan VOC. Mereka membuat markas di pegunungan supaya tidak diketahui oleh Coen, saat dia datang ke Banda. Pemboikotan yang dilakukan oleh bangsa Banda ini akhirnya ketahuan juga, dan menyebabkan Coen naik pitam.
Pada tanggal 10 Maret 1621 dengan berkekuatan sebanyak 2000 tentara (sebagian tentara bayaran dari Jepang), Coen memimpin sendiri penyerangan tersebut ke P. Lontor, dari hasil penyerbuan tersebut Coen menangkap sebanyak 800 orang dan dikirim ke Batavia sebagai budak. Sebuah laporan yang diterbitkan setahun kemudian Verhael van eenighe oorlogen in Indië (1622) (Critici van Jan Pieterszoon Coen; Ewald Vanvugt; 1996) seorang saksi mata menjelaskan pada tanggal 8 Mei 1621 di depan Benteng Nassau, sebanyak 44 dakwaan dituduhkan kepada para pemimpin suku Banda, kemudian setelah dakwaan dibacakan delapan pemimpin suku Banda ini kemudian dipancung oleh enam orang tentara bayaran dari Jepang. Kemudian mayatnya dipotong menjadi empat bagian dan dibuang ke empat penjuru. 1)
Menurut salah seorang serdadu VOC yang ikut, Vertoogh. Sekitar 2500 penduduk Banda dibiarkan tewas kelaparan, dan banyak yang tewas terpancung sehingga seandainya kita bisa terbang pasti dapat melihat seluruh pulau penuh dengan mayat. Pembantaian lebih kejam terjadi pada minggu kedua April 1621, hanya dalam waktu satu minggu 1200 – 1300 penduduk Banda tewas dibantai, dan dengan bangga Coen melaporkan kepada Heren XVII “Seluruh orang aborigin dari Banda sudah mati karena perang, kelaparan dan kekurangan. Hanya sedikit yang bisa lolos dan mengungsi ke tempat lain” (Ewald Vanvugt; 1996).

Benteng Nassau dalam lukisan tahun 1646

Benteng Nassau saat ini


Pembantaian ini dilakukan sangat brutal, Willard A. Hanna dalam bukunya Indonesian Banda Colonialism and its aftermath in the nutmeg island, menjelaskan bahwa sebelum pembantaian 8 Mei 1621, jumlah penduduk Banda adalah 14000 orang, setelah pembantaian hanya tersisa sekitar1000 orang, itupun mereka selamat karena mengungsi ke pulau lain. Kemudian setelah kepulauan Banda ini kosong dari penduduk asli, maka Coen mendatangkan orang dari berbagai bangsa untuk bekerja di pulau ini, mayoritas penduduk baru yang tinggal di P. Banda ini berasal dari bangsa Makasar, Bugis, Melayu, Jawa, Cina, sebagian Portugis, Maluku dan Buton.

Pada tanggal 1 Februari 1623 Coen menyerahkan jabatan Gubernur Jenderal kepada penggantinya Pieter de Carpentier, dan pulang ke negeri Belanda. Di Belanda pamor Coen naik, dia diangkat menjadi salah satu pemimpin VOC di Hoorn. Dia juga tetap mengontrol perdagangan VOC di Asia yang mulai menyebar hampir di semua belahan tempat di Asia semenjak tahun 1614. Tahun 1625 dia menikahi Eva Ment. Pada tanggal 3 Oktober 1624 dia ditunjuk kembali menjadi Gubernur Jenderal. Pada tahun 1627 dia pergi lagi ke Hindia, berserta keluarganya. Tanggal 30 September 1627, untuk kedua kalinya JP Coen memimpin VOC di Hindia. Saat tiba di Hindia, Batavia sudah resmi menjadi pusat pemerintahan VOC di Hindia, sementara di Banten menjadi kantor cabangnya.
Saat kepemimpinannya yang kedua ini, Batavia mendapat serangan hebat dari Mataram di tahun 1628 dan 1629. Kedua pertempuran ini bisa dimenangkan oleh Belanda, disebabkan persenjataan VOC yang lebih unggul, juga logistik tentara Mataram yang kurang koordinasi. Pada pertempuran kedua tahun 1629 JP Coen meninggal akibat kolera dan dimakamkan di Pemakaman Belanda (Sekarang Museum Wayang).2) Penggantinya adalah Jacques Specx.
Kisah kehidupan dan kepemimpinan Coen ini menjadi perdebatan dan kritisi dari berbagai orang. Beberapa orang berpendapat tindakan Coen ini terlalu berlebihan, bahkan Heren XVII pun memandangnya seperti itu. Dalam sejarah Jan Pieterszoon Coen dianggap sebagai seorang pemimpin yang tiran dan antagonis. Meskipun dia menjabat sebagai Gubernur Jenderal tidak lama, tetapi kekejaman yang ditimbulkannya tetap menjadi cerita hingga saat ini. Bagi Coen sukses hanya bisa direbut melalui darah dan kekuatan militer.











Lukisan di Mesum Rumah Budaya

1) Kisah dipenggalnya para pemimpin suku Banda oleh tentara Jepang ini bisa dilihat lukisannya di Museum Rumah Budaya – Banda Neira. Termasuk juga saksi bisu dari pembantaian ini yaitu benteng Nassau yang masih berdiri tegak sampai saat ini di Banda Neira. Benteng Nassau adalah salah satu dari enam Benteng VOC yang sampai sekarang masih berdiri, dibangun pada tahun 1609 di atas reruntuhan benteng Portugis oleh Admiral Belanda Verhoefen. Selain benteng ini ada juga Benteng Belgica
2) Menurut Babad Tanah Jawi, JP Coen meninggal akibat luka dalam pertempuran melawan tentara Mataram, kepalanya kemudian dibawa ke Yogyakarta dan dibenamkan di salah satu tangga pemakaman raja-raja Mataram, Imogiri. Dengan maksud siapa saja yang akan ziarah ke makam tersebut harus menginjak dahulu kepala


 

Laurens Reael (1614-1619)

Laurens Reael

Laurens Reael lahir tanggal 22 Oktober 1583 di Amsterdam, Belanda. Dari sejak kecil, beliau mendapat pendidikan yang sangat baik. Pada tahun 1608 Reael menjadi sarjana di bidang hukum dari Universitas Leiden.

Perjalanan karir Laurens Reael ini termasuk cemerlang. Pada bulan Mei 1611, Reael menjadi komandan armada yang terdiri dari 4 kapal untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara. Sesampainya di Banten, beliau langsung ditunjuk oleh Gubernur Jenderal Pieter Both menjadi anggota Dewan Hindia (Raad van Indië) – tahun 1612. Pada tanggal 3 Agustus 1613 dia ditunjuk sebagai wakil gubernur untuk wilayah Maluku, Ambon dan Banda. Pada awal tahun 1615 menjadi gubernur wilayah kepulauan Maluku. Setelah kematian Gubernur Jenderal Gerard Reynst pada tanggal 7 Desember 1615, Reael ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal oleh Dewan Hindia, untuk mengisi kekosongan kekuasaan VOC di Nusantara. Pada tanggal 19 Juni 1616, Laurens Reael memilih tinggal di Ternate sebagai tempat kerjanya, dan untuk menfokuskan pekerjaannya sebagai gubernur jenderal, dia minta kenaikan budget secara drastis sebagai gaji para pegawai VOC di Hindia Belanda. Permintaan ini menyebabkan para petinggi VOC dalam Heren XVII meminta Reael untuk mengundurkan diri pada tanggal 31 Oktober 1617 (sumber lain menjelaskan bahwa Reael yang meminta pengunduran diri). Masalah perbedaan gaji ini hanya salah satu point yang membuat Reael mengundurkan diri. Penyebab utamanya adalah perbedaan pandangan yang tajam antara Reael dengan para petinggi VOC di Negeri Belanda terhadap warga pribumi Nusantara. Reael sebenarnya menginginkan bahwa fokus utama VOC saat itu adalah melawan intervensi Inggris yang akan menguasai perdagangan di Maluku. Selain itu beliau adalah pejabat pertama yang mengkritik kebijakan petinggi VOC terhadap para penduduk asli Maluku dengan menerbitkan aturan hongi tochten*. Dia dan teman karibnya Steven van der Haghen berpendapat bahwa tujuan VOC berada di Nusantara adalah untuk menjalankan misi dagang dan diplomatik yang tidak disertai kekerasan dan kekejaman terhadap penduduk pribumi. Protes ini akhirnya memang tidak ditanggapi oleh Heren XVII, apalagi setelah datang penggantinya Jan Pieterszoon Coen.

Selama pemerintahan Laurens Reael, VOC lebih banyak melakukan peperangan dengan pihak asing seperti bertempur dengan koloni Spanyol di teluk Manila tahun 1617, mencegah mendaratnya Inggris di Banten dan Maluku, sempat bentrok dengan pasukan Mataram di Jepara. Pada tanggal 21 Maret 1619 Laurens Reael menyerahkan jabatannya kepada Jan Pieterszoon Coen, dan kemudian pulang ke Belanda dan tidak kembali lagi ke Nusantara hingga akhir hayatnya.

Setiap pejabat VOC yang kembali ke negaranya harus membuat laporan pekerjaannya dan diserahkan kepada petinggi VOC di Den Haag. Laurens Reael membuat laporan selama pemerintahannya di Hindia Belanda pada bulan Januari 1620. Dalam laporannya dia menjelaskan tentang perhatiannya pada peperangan di Maluku termasuk juga kekejaman yang diluar batas yang dilakukan oleh bangsa Belanda di Maluku dianggap dia sebagai tindakan yang tidak bisa diterima oleh bangsa beradab.

Walaupun banyak perbedaan pendapat dengan Heren XVII, Reael diberi juga penghargaan oleh mereka berupa gouden medaille met inscriptie. Karena walau bagaimanapun Reaels tetap memberikan keuntungan bagi VOC. Reaels akhirnya banyak menghabiskan waktunya di bidang seni sastra (beliau menjadi anggota Muiderkring – perkumpulan penggemar sastra di abad 17). Pada tanggal 9 Juni 1625, beliau diangkat menjadi ketua kamar dagang Amsterdam. Hingga akhir hayatnya beliau tetap menjadi administratur VOC walaupun sering absen karena kegiatannya yang mewakili kerajaan Belanda di luar negeri. Dari tahun 1625 – 1627 Reael menjadi admiral untuk armada angkatan laut kerajaan Belanda. Tahun 1626 melakukan misi diplomatik ke Inggris mewakili Belanda untuk bertemu raja Inggris Charles I. Tahun 1627 saat menjalankan misi kenegaraan di Denmark, beliau mengalami kecelakaan saat akan kembali ke Belanda, kapalnya tenggelam di lepas pantai Jutland – Denmark, beliau selamat dan sempat menjalankan pengobatan di Wina Austria. Tahun 1630 beliau menjadi anggota Dewan Kerajaan di Amsterdam. Laurens Reael meninggal dunia karena sakit pada tanggal 21 Oktober 1637 di Amsterdam


*HONGI TOCHTEN, yaitu tindakan penghukuman VOC atas penduduk Maluku, termasuk Banda, dimana VOC melakukan pembakaran dan pemusnahan atas tanaman rempah-rempah disitu, serta melakukan teror terhadap penduduk di wilayah tersebut untuk membikin stabil harga rempah-rempah di pasaran Amsterdam, jangan sampai merosot disebabkan oleh “overpruduksi” di Indonesia Timur. Demi keuntungan yang melimpah-ruah VOC tidak segan-segan untuk melakukan tindakan kekerasan, melakukan pembunuhan, penindasan dan melancarkan perang. Belum lagi penggunaan orang Indonesia, untuk dipekerjakan sebagai budak-budak di pelbagai perkebunan pala, cengkeh, merica dll. Begitu menyoloknya tindakan biadab yang dilakukan oleh VOC, sampai-sampai salah seorang gubernur VOC di Maluku, bernama Laurens Reael, karena tidak tahan melihat kebiadaban tindakan VOC terhadap rakyat Maluku, beberapa bulan saja sessudah diangkat menjadi pejabat, segera minta keluar. Ia melakukan kecaman keras terhadap pemerintah Belanda. Mantan gubernur Laurens Reael adalah pejabat tinggi Belanda pertama yang menentang praktek jahat VOC. Praktek-praktek VOC menurut Rick van de Broeke, salah seorang keturunan dari kekuasaan VOC dulu, merupakan lembaran hitam dalam sejarah Belanda. Menurut mantan gubernur Laurens Reael dalam suratnya kepada direksi VOC di Holland ketika itu, tindakan-tindakan VOC yang melakukan perampokan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang-orang Indonesia, telah membikin orang-orang Belanda terkenal di seluruh Hindia (Indonesia) sebagai bangsa yang paling kejam di seluruh dunia.

 

Gerard Reynst (1614-1615)


Van Gerard Reynst (kadang disebut Gerrit Reynst) lahir di Amsterdam Belanda, tanggal lahir dan tahunnya tidak diketahui. Pada tahun 1599, Reynst merupakan seorang saudagar dan pemilik kapal, dia juga merupakan pendiri (medeoprichter) dan komisaris dari perusahaan dagang Nieuwe of Brabantsche Compagnie, Perusahaan ini pada tahun 1601 beraliansi dengan perusahaan lain membentuk persatuan dagang Amsterdam (Verenigde Compagnie van Amsterdam), dan pada tahun 1602 membentuk Persatuan Dagang Hindia Timur (Verenigde Oostindische Compagnie – VOC). Berdasarkan keputusan dari para koleganya yang juga pemegang saham VOC (de Heren XVII), Reynst diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 20 Februari 1613. Pada tanggal 2 Juni 1613 berangkat dengan armada yang terdiri dari 9 kapal dan dikomandani oleh Steven van der Haghen, yang kemudian menjadi anggota Raad van Indie (Dewan Hindia). Perjalanan yang ditempuh hingga mencapai pantai Banten cukup lama lebih dari 1 tahun. Pada tanggal 6 November 1614 Reynst mengambil alih kekuasaan VOC di Hindia Belanda dari Pieter Both, pada saat yang sama juga Reynst mengirimkan armadanya ke Laut Merah untuk negosiasi dagang dengan Bangsa Arab.

Salah satu tugas yang diterima Reynst adalah mengangkat pendeta dan guru untuk bangsa Belanda yang tinggal di Banten, dan juga mencari tempat yang cocok untuk kegiatan tersebut. Penunjukkan pendeta dan guru saat itu memang diperlukan karena sebagian besar bangsa Belanda yang tinggal di Banten banyak yang menganggur dan tidak punya ketrampilan, hal ini disebabkan kurangnya kontrol dari pusat. Reynst banyak menghabiskan waktunya di Maluku dan tinggal di kapal. Peristiwa penting yang terjadi saat pemerintahan Reynst adalah pendudukan Pulau Ai di Kepulauan Banda untuk mengusir Inggris dan mengontrol monopoli pala di pulau itu.

Reynst berangkat ke Pulau Ai dengan kekuatan sebanyak 900 orang tentara, jumlahnya dua kali lipat dari laki-laki yang ada di pulau itu. Pertempuran terjadi sepanjang malam, akhirnya Inggris melarikan diri dari pulau itu dengan sebelumnya melakukan bumi hangus terhadap ladang-ladang pala di seluruh pulau. Besoknya tentara Reynst mendapat serangan hebat dari para penduduk Banda dengan menggunakan meriam, 200 tentara VOC tewas akibat serangan ini. Walaupun mendapat serangan hebat, Reynst akhirnya bisa menaklukan Pulau Ai hingga pulau Seram. Tahun 1615 dia kembali ke Banten, pada tahun yang sama Reynst membuat persetujuan dagang dengan Pangeran Indragiri, Riau.

Gubernur Jenderal Gerard Reynst adalah orang pertama yang mengusulkan perbudakan di tanah Hindia Belanda, tahun 1615 dia mengirimkan sejumlah besar orang Maluku, Ambon dan Banda untuk dikirim ke Banten dan Jayakarta. Alasannya adalah pekerjaan yang dilakukan oleh para budak lebih cepat dan ongkosnya sangat murah bila dibandingkan dengan para tentara dan pelaut VOC. Salah satu pekerjaan para budak ini adalah memperbaiki Factorij (Gudang merangkap Kantor) Nassau dan membangun Gudang Mauritius di Jayakarta dengan batu coral, untuk memperkuat VOC dari serangan Inggris dan juga menyimpan rempah-rempah sebelum dikirim ke Negeri Belanda

Saat Gerard Reynst meninggalkan Banten menuju Jayakarta, beliau terkena serangan disentri dan meninggal dunia tanggal 7 Desember 1615 di dalam Factorij Nassau, Jayakarta, Reynst dimakamkan di Portugese Buitenkerk – Gereja Portugis di luar benteng (tidak jelas disebutkan apakah yang dimaksud Gereja Portugis itu adalah gereja Sion sekarang karena gereja ini baru berdiri tahun 1693, atau Gereja Portugis yang ada di dalam benteng – yang sampai abad 19 masih berdiri). Penggantinya adalah Laurens Reael.

Sunday, December 18, 2005

 

Pieter Both (1609-1614)

Pieter Both

Tanggal lahir bahkan tahun kelahiran dari Pieter Both tidak diketahui pasti (sekitar tahun 1568?), tetapi yang jelas beliau lahir di kota kecil Amersfoot. Masa kecil Pieter Both juga tidak diketahui. Yang diketahui pasti adalah dia berdagang di Italia dan mempunyai perusahaan di sana. Perjalanan pertama Pieter Both yang diketahui dilakukan pada tahun 1599 dengan empat kapal mewakili perusahaan Nieuwe of Brabantsche Compagnie dari Amsterdam menuju Indonesia. Dia kembali pada tahun 1601 dengan dua kapal yang penuh muatan.

Tidak lama setelah pulang berlayar, para pedagang yang bergabung dalam Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) meminta dia untuk tinggal di Hindia Belanda sebagai Gubernur Jenderal merangkap juga sebagai Konsul Dagang, dengan tujuan untuk mengorganisasi kebutuhan perusahaan menjadi lebih baik. Akhirnya pada tahun 1609 Pieter Both menjadi Gubernur Jenderal Pertama VOC di Hindia Belanda (Indonesia). Mengapa para pedagang tersebut memilih Pieter Both tidaklah jelas, yang pasti pada tahun 1610 Both berlayar dengan armada yang terdiri dari 8 kapal, dan sepuluh bulan kemudian, pada tanggal 19 Desember 1610 mendarat di Banten, Jawa Barat.

Tugas pertama Both adalah mencari tempat yang cocok untuk berlabuhnya kapal dan juga lokasi yang bakal menjadi pusat pemerintahan VOC. Tugas selanjutnya adalah mengatasi korupsi yang selama ini dilakukan oleh para pedagang VOC dan memastikan monopoli rempah-rempah di Maluku jatuh ke tangan VOC. Akhirnya Both menjadikan Maluku sebagai pusat perdagangan, sementara untuk kantor dan pelayanan administrasi dipusatkan di Jawa. Alasannya adalah persediaan pangan lebih melimpah di Jawa dibandingkan di Maluku. Sejarah membuktikan bahwa memang akhirnya pulau Jawa mempunyai kedudukan yang strategis selama penjajahan Belanda di Indonesia. Both membangun kantor kecil di kota Jayakarta, kemudian menjalin kontrak dengan raja-raja Maluku, membuat perjanjian dengan Timor yang saat itu sudah dijajah oleh Portugis dan mengusir Portugis dari Tidore

Pieter Both berhenti menjadi gubernur jenderal dan digantikan oleh Gerard Reynst pada tanggal 6 November 1614. Pada tanggal 2 Januari 1615 dengan menaiki kapal “Banda” sebagai kapal komando, Both meninggalkan Banten dengan armada yang terdiri dari empat kapal membawa muatan senilai 4.5 juta Gulden, tetapi Both tidak pernah sampai tujuan. Pada tanggal 6 Maret 1615 kapalnya karam diterjang badai di lepas pantai Mauritius, Both berusaha mencapai pantai tetapi akhirnya tewas sebelum mendarat di pantai. Untuk mengenang namanya, sampai sekarang nama Pieter Both dipakai sebagai nama salah satu dataran tinggi di Mauritius dengan nama Pieter Bothberg.
Pieter Bothberg - Mauritius

This page is powered by Blogger. Isn't yours?