Monday, October 02, 2006

 

Joan Maetsuycker (1653 – 1678)

Joan Maetsuycker


Joan Maetsuycker (kadang ditulis Maetsuyker dan Maetsuijker) merupakan orang yang paling lama menduduki posisi Gubernur Jenderal, kurang lebih 25 tahun dia menduduki posisi tersebut. Selama menjadi gubernur jenderal, Indonesia mengalami dua pertempuran besar yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia. Pertempuran pertama terjadi di Makassar Gowa yang dipimpin oleh Raja Gowa , Sultan Hasanoeddin dan pertempuran kedua terjadi di Jawa Timur, yaitu munculnya pemberontakan Troenodjojo (Trunojoyo) terhadap kekuasaan Mataram dan mengakibatkan campur tangan VOC di dalamnya.
Joan Maetsuyker lahir di Amsterdam pada tanggal 14 Oktober 1606, beliau lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Katolik Roma, dan juga nantinya merupakan gubernur jenderal pertama yang beragama Katolik (sebelum-sebelumnya para gubernur jenderal beragama Kristen Protestan). Maetsuyker lulus dari sekolah hukum di Leuven dan menjadi pengacara di kota The Hague (Den Haag), kemudian meneruskan karirnya di kota kelahirannya, Amsterdam.
Pada tahun 1635, Maetsuyker bergabung dengan VOC dan ditugaskan di Indonesia. Pada tanggal 2 Mei 1636 dengan menumpang kapal Prins Willem beliau meninggalkan Amsterdam dan mendarat pada tanggal 26 September 1636 di Batavia dan menjabat sebagai kepala urusan rumah tangga di Dewan Keadilan (Raad van Justitie) di Batavia. Di tahun yang sama juga Maetsuyker menjadi presiden komite yatim piatu, kemudian pada tahun 1637 menjabat presiden dari akademi hukum kelautan. Karir Maetsuyker terus menanjak, pada tahun 1640 dia menjadi ketua dewan keadilan dan juga ketua dari urusan pengawasan dan kependudukan bangsa Cina.
Tanggal 13 Agustus 1641, beliau diangkat menjadi konsul kehormatan untuk Hindia Belanda. Saat menjabat posisi ini, beliau diajak oleh Gubernur Jenderal van Diemen untuk membuat suatu ketetapan hukum dan peraturan untuk penduduk Batavia. Peraturan dan hukum yang ditetapkan ini dikenal dengan istilah “Bataviasche Statuten”, dan mulai berlaku pada tanggal 5 Juli 1642. Statuta ini sendiri berlaku hingga pendudukan Inggris di Indonesia pada tahun 1811-1816, dan juga masih dipakai setelah masa English Interregnum hingga tahun 1828.
Tidak lama kemudian tepatnya pada tanggal 10 Agustus 1642, beliau memimpin ekspedisi ke Goa (Srilangka) yang saat itu merupakan pusat perdagangan Portugis di Asia Selatan. Tujuan dari ekspedisi ini adalah membahas mengenai perbatasan antara wilayah VOC di Ceylon dengan Portugis di Goa, termasuk aset-aset di dalamnya. Tahun 1646 hingga tahun 1650, Maetsuyker menjadi Gubernur di Ceylon. Tahun 1650, beliau kembali ke Indonesia untuk menjabat sebagai Ketua Dewan Hindia dan juga sebagai Direktur Jenderal VOC.
Pada tahun 1653, Maetsuyker dianggap sebagai orang yang cocok untuk menggantikan posisi Gubernur Jenderal Reyniersz. Tahun 1654 Maetsuyker diangkat secara resmi oleh Heeren XVII sebagai Gubernur Jenderal dan jabatan ini akan dipegang olehnya hingga 25 tahun mendatang.

Ambisi Joan Maetsuyker
Di masa kepemimpinannya, Maetsuyker memiliki ambisi untuk memperluas wilayah VOC di Indonesia, apalagi dia mempunyai dua orang bawahan yang sangat setia, bisa dipercaya dan juga tangguh yaitu Rijckloff van Goens dan Cornelis Speelman.
Langkah pertama yang diambil oleh Maetsuyker adalah mengincar Kerajaan Goa di Sulawesi yang selama ini selalu menolak kerjasama dagang dengan VOC tetapi berhubungan dengan Portugis, yang notabene juga merupakan pesaing berat VOC di Indonesia. Untuk memantapkan langkah tersebut, mula-mula adalah mengkondisikan kepulauan Maluku betul-betul 100% dikuasai oleh VOC. Karena itu VOC melakukan pengusiran kepada penduduk di Ambon dan juga pemusnahan tanaman cengkeh di Hoamoal, peristiwa ini dilakukan pada tahun 1656. Setahun kemudian VOC melakukan hal yang sama di Pulau Buru, penduduk di pulau itu diusir.
Setelah posisi VOC di kepulauan Maluku dapat diperkuat, maka VOC memasang pos di Menado untuk mengawasi lalulintas dagang antara Spanyol di kepulauan Filipina dengan Tidore. Penyerangan ke Goa dimundurkan dari jadwal semula yaitu dari yang direncanakan pada tahun 1658. Hal ini disebabkan adanya pemberontakan di Palembang hingga menyebabkan pos VOC di sana hancur. Akibatnya terjadi perang antara VOC dan Palembang pada tahun 1658 dan pada tahun 1659 dilakukan bumi hangus terhadap kota Palembang oleh VOC. Sementara itu pada tahun yang sama VOC membuat perjanjian damai dengan Kerajaan Banten.

Perang Gowa
Setelah berhasil menghancurkan Palembang, Maetsuyker kembali ke ambisinya semula yaitu mengontrol Gowa, tindakan awal adalah menghancurkan kekuatan pantai Gowa yang saat itu dilindungi oleh kapal-kapal Portugis. Serangan dilakukan pada bulan Agustus 1660, dengan kekuatan sebanyak 30 kapal, VOC berhasil meluluhlantakan kapal-kapal Portugis di pelabuhan Makassar. Akibat dari kekalahan ini, raja Gowa saat itu Sultan Hasanuddin dipaksa menerima perjanjian damai dengan VOC.
Melihat bahwa Gowa sudah lemah karena angkatan perangnya dihajar oleh VOC, pemimpin kerajaan Bone (yang saat itu merupakan jajahan dari kerajaan Gowa) Arung Palakka memberontak kepada Hasanuddin dan memusatkan kekuatannya di Butung. VOC melihat pemberontakan Bone kepada Gowa merupakan celah yang bisa dimanfaatkan untuk menguasai Gowa secara keseluruhan. Karena itu pada tahun 1663, VOC mengajak Arung Palakka dan pengikutnya untuk pergi ke Batavia. Di Batavia, Arung Palakka dijanjikan bahwa Bone akan berdaulat sepenuhnya jika mau membantu VOC menghancurkan Makassar.
Kesepakatan antara Arung Palakka dan Gubernur Jenderal Maetsuyker akhirnya disetujui. Pada tahun 1666, dibawah pimpinan Admiral Cornelis Speelman dibantu dengan tentara Bugis pimpinan Arung Palaka dan juga tentara Ambon pimpinan dari “Kapten Jonker”, menyerang Makassar. Tahun 1667, armada Speelman berhasil mendarat di Butung dan menghancurkan tentara Gowa di sana. Dari Butung, Speelman tidak mengarahkan armadanya ke Makassar tetapi langsung menuju Tidore (yang saat itu sudah tidak dilindungi oleh Spanyol) untuk memaksa perjanjian damai dengan VOC. Akibat tekanan yang diberikan oleh VOC Tidore bersedia menerima perjanjian tersebut,dan akhirnya Ternate dan Tidore sepenuhnya berada dalam kekuasaan VOC.
Kondisi tersebut diatas sangat menguntungkan VOC karena praktis Gowa tidak akan mendapat bantuan dari manapun, apalagi setelah sebelumnya pos Portugis di Larantuka – Flores dihancurkan oleh armada VOC dan akhirnya memaksa Portugis hengkang ke Lifau (sekarang wilayah Oecussi atau Pantemakassar – Timor Leste). Setelah mendarat di Butung, Arung Palakka kembali ke Bone dan mengobarkan revolusi melawan Gowa kepada rakyatnya. Dan pada tahun 1668 Gowa berhasil dikalahkan oleh koalisi VOC dan Bone. Dan pada tanggal 18 November 1668, dilakukan perjanjian antara Sultan Hasanuddin dengan VOC yang dikenal dengan Perjanjian Bongaya. Isi dari perjanjian tersebut adalah Kerajaan Gowa sepenuhnya berada di bawah kontrol VOC, dan pengaruh Raja Gowa adalah hanya sekitar kota Makassar dan tidak berhak mengontrol wilayah diluar kota.
Perjanjian ini membuat Hasanuddin berang, karena dianggap sangat merugikan kerajaannya. Akhirnya pada awal tahun 1669, dengan kekuatan terakhirnya Gowa melawan tentara VOC. Perlawanan hebat ini berakhir setelah Speelman mendapat bantuan dari Batavia dan berhasil menerobos Benteng terkuat Gowa saat itu, Somba Opu pada tanggal 22 Juni 1669. Akibat dari kekalahan ini, Sultan Hasanuddin akhirnya mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan meninggal dunia pada tanggal 12 Juni 1670. Dengan meninggalnya Sultan Hasanuddin, berakhirlah Perang Gowa, dan sejak saat itu Makassar dikuasai oleh VOC.
Kemudian sesuai dengan janjinya, VOC pada tahun 1672 mengangkat Arung Palakka sebagai Raja Bone. Setelah menjadi raja, Arung Palakka kemudian menduduki berbagai daerah di Sulawesi Selatan, seperti Toraja pada tahun 1674

Pemberontakan Trunojoyo
Sebetulnya VOC tidak ada ambisi untuk menguasai Pulau Jawa, karena ada perjanjian damai antara Mataram di timur dan Banten di sebelah Barat. Tetapi peristiwa tahun 1671-lah yang mengakibatkan sejarah berubah.
Pada tahun 1671, pemimpin pulau Madura yaitu Trunojoyo memberontak terhadap kekuasaan Mataram di pulau itu. Pemberontakan dimenangkan oleh Trunojoyo dan menguasai pulau ini dari pengaruh Mataram. Mataram sendiri tidak begitu serius menanggapi, karena pada tahun-tahun tersebut Gunung Merapi meletus dan dilanjutkan dengan wabah kelaparan pada tahun 1674.
Mengetahui bahwa Mataram terkena musibah dan tidak menganggap serius terhadap kekuatan Trunojoyo. Maka pada tahun 1675 Trunojoyo dibantu dengan tentara Makassar yang mengungsi dari Sulawesi mulai menyerang pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa. Trunojoyo dengan memanfaatkan sentimen keagamaan berhasil mengambil simpati penduduk di pesisir utara Jawa. Hingga akhir tahun Trunojoyo berhasil mengambil alih Surabaya, Jepara hingga Cirebon dari tangan Mataram.
Mengetahui situasi yang tidak menguntungkan, Raja Mataram Amangkurat I mengutus anaknya Pangeran Puger untuk bertemu dengan Gubernur Jenderal Maetsuyker dengan tujuan meminta bantuan VOC menumpas Trunojoyo. Permintaan ini segera dimanfaatkan oleh Maetsuyker untuk memperluas pengaruhnya di P. Jawa. Maetsuyker segera memenuhi permintaan itu, kemudian dia mengirimkan admiralnya yang tangguh yaitu Cornelis Speelman untuk menghajar tentara Trunojoyo di Cirebon dan Jepara.
Keberhasilan VOC memaksa pasukan Trunojoyo meninggalkan Cirebon dan Jepara membuat Amangkurat harus menandatangani perjanjian antara VOC dengan Mataram. Perjanjian dibuat pada tanggal 25 Februari 1677 dengan isi VOC berhak mendirikan pelabuhan dimana saja di wilayah Mataram, Mataram dilarang melakukan hubungan dengan Aceh, Arab atau bangsa lain untuk mendarat di Mataram, seluruh biaya yang timbul akibat peperangan dengan Trunojoyo ditanggung sepenuhnya oleh Mataram.
Setelah Mataram bersedia menandatangani perjanjian tersebut, pada bulan Mei 1677, Speelman menyerang Surabaya dan dapat memukul mundur Trunojoyo setelah memakai lebih dari 100 meriam. Trunojoyo sendiri langsung bergerak ke ibukota Mataram, Plered untuk membunuh Amangkurat dan keluarganya, ternyata mereka sudah pada mengungsi. Akhirnya Trunojoyo membawa seluruh harta peninggalan Amangkurat I dan bergerak mundur hingga Kediri. Semetnara di pengasingan pada bulan Juli Amangkurat I meninggal dunia dan digantikan Amangkurat II (bukan Pangeran Puger tetapi anak dari selir sesuai permintaan VOC) yang tetap meminta VOC membunuh Trunojoyo. Karena Mataram sudah tidak memiliki harta lagi, akhirnya mereka menyerahkan Semarang kepada VOC dan sebagian daerah dudukannya di Priangan dan keuntungan dari perdagangannya hingga hutang terlunasi.
VOC dan Arung Palakka menyerang tentara Trunojoyo di Kediri pada tahun 1678 dan pada tahun 1679 Trunojoyo tertangkap dan dihukum mati.

Pencapaian Joan Maetsuyker
Dengan berkuasa sedemikian lama VOC berhasil mengembangkan sayapnya hingga hampir ke seluruh nusantara. Hingga tahun 1678, kekuasaan VOC mencakup pantai barat Sumatera termasuk Padang, Palembang, Bengkalis, Lampung, Pesisir Utara Jawa, Priangan, Madura, Banjarmasin, Makassar, Menado, Minahasa, Sumbawa, Flores, P. Roti, Kep Aru dan Kepulauan Maluku. Dengan semakin luasnya pengaruh VOC di Nusantara, menyebabkan nama VOC semakin harum dan mandiri. Sebagai informasi pada tahun 1672, Perancis dibawah pimpinan Louis XIV menginvasi Belanda dengan 100.000 tentara. Pendudukan ini mengakibatkan perekonomian Belanda lumpuh, tapi hal itu tidak berlaku untuk VOC, karena VOC dapat menghidupi dirinya sendiri.
Selain itu, keuntungan yang didapat dari pendudukan daerah-daerah ini, sangat besar bahkan pada tahun 1670, keuntungan yang diterima VOC adalah sebesar 15 juta guilden, dan para pemegang sahamnya menerima deviden lebih tinggi 60% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Joan Maetsuyker tetap menjadi Gubernur Jenderal hingga akhir hayatnya, Heeren XVII tidak ada niat untuk mengganti posisinya dengan orang lain, mengingat prestasi yang diukir oleh Maetsuyker. Maetsuyker sendiri meninggal dunia di Batavia pada tanggal 4 Januari 1678 dan dimakamkan di Netherlandsche Kerk, penggantinya adalah teman setianya Rijckloff van Goens.
Di Batavia sendiri Maetsuyker mempelopori pendirian gereja Portugis di dalam Benteng pada tahun 1670 (gereja ini habis terbakar pada tahun 1808). Selain itu, Maetsuyker juga membebaskan bangsa Arab untuk mendirikan Masjid-masjid di lingkungan masing-masing. Karena itu bagi bangsa Arab di Batavia, Maetsuyker termasuk dianggap orang yang toleran terhadap Islam.

Comments:
salam kenal
 
Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?