Tuesday, January 10, 2006

 

Hendrik Brouwer (1632 – 1636)



Dalam sejarah, Hendrik Brouwer (kadang ditulis juga Henderik Brouwer) lebih dikenal sebagi penjelajah maritim – sea explorer, dibandingkan sebagai Gubernur Jenderal, karena penemuan jalur baru yang lebih cepat ke Hindia Belanda. Juga ekspedisinya ke Amerika Selatan.
Tanggal dan tempat kelahiran Hendrik tidak diketahui pasti, yang jelas dia lahir pada tahun 1581. Pada tahun 1606, dia berlayar menuju Hindia, tetapi tidak lama berada disana, Hendrik kembali ke Belanda. Pada tanggal 16 April 1610, dengan jabatan sebagai komandan armada yang terdiri dari tiga kapal. Hendrik kembali berlayar ke Hindia. Pelayaran kali ini merupakan pelayaran yang bersejarah bagi dunia maritim saat itu (bahkan hingga sekarang). Setelah sempat beristirahat di Tanjung Harapan, pada awal tahun 1611 Hendrik mencoba jalur baru menuju Hindia Belanda dan tidak mengikuti jalur Portugis yang selama ini dilakukan oleh Armada Belanda. Sebagai informasi, yang dimaksud jalur Portugis adalah, setelah melewati Tanjung Harapan kapal berlayar menuju Mauritius (sebuah pulau di sebelah timur Madagaskar), lalu ke pantai Srilangka dan kemudian menuju Asia Tenggara. Sementara jalur baru yang dimaksud adalah setelah melewati Tanjung Harapan, Hendrik terus berlayar kurang lebih tiga ribu mil ke timur, dan sebelum gugusan karang di Kepulauan Beacon (Barat Australia)1, kapal bergerak ke utara menuju P. Jawa. Rute baru ini mempersingkat waktu perjalanan dari yang biasanya satu tahun menjadi hanya sekitar 6 bulan.


Jalur laut yang baru sejak tahun 1613 ditetapkan sebagai jalur Brouwer dan dikenal dengan istilah Roaring Forties 2, sejak saat itu seluruh armada Belanda menggunakan jalur ini hingga terusan Suez dibuka pada tahun 1869. Bahkan Portugis mengakui jalur ini merupakan jalur tercepat ke Eropa, dan semenjak tahun 1617, Portugis menetapkan Roaring Forties sebagai jalur dagang mereka.
Hendrik Brouwer tidak lama berada di Hindia, beberapa sumber menyebutkan bahwa Brouwer tidak begitu cocok dengan Gubernur Jenderal VOC saat itu, Pieter Both. Kemudian pada tahun 1613 Brouwer ditugaskan mengisi posisi sebagai Kepala Perdagangan di Hirado Jepang, menggantikan Jacques Specx. Brouwer juga tidak lama menduduki posisi tersebut. Selama di Jepang, Brouwer berhasil melakukan kontak dagang hingga ke pusat pemerintahan Jepang saat itu, Edo (sekarang bernama Tokyo). Pada tahun 1613, dilakukan kontak dagang antara VOC di Jepang dengan Siam (Thailand). Pada tahun yang sama juga Brouwer dipanggil pulang ke Belanda untuk menduduki posisi sebagai pimpinan (Bewindhebber) di Heeren XVII. Bouwer menduduki posisi ini selama lima belas tahun. Dan posisi Kepala Dagang di Jepang diisi kembali oleh Jacques Specx pada tahun 1614.
Pada tahun 1632, Brouwer ditugaskan ke London untuk menyelesaikan perselisihan antara VOC dengan British East Indian Company yang semakin memburuk, terutama semenjak terjadinya peristiwa pembantaian Ambon pada tahun 1623. Masih pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 18 April 1632, dia menumpang kapal Zutphen menuju Hindia untuk menerima posisi sebagai Gubernur Jenderal, dikarenakan saat itu Pieter de Carpentier menolak untuk dicalonkan kembali, dan Jacques Specx dipanggil pulang, karena jabatannya sebagai Gubernur Jenderal tidak diakui oleh Heeren XVII.
Selama menjabat menjadi Gubernur Jenderal, terjadi beberapa peristiwa di Nusantara, diantaranya. Terjadi bentrokan antara tentara VOC dengan tentara Banten, yang didukung oleh legiun Mataram. Kemudian untuk melemahkan kekuatan Mataram dilakukan pemboikotan dan blokade jalur darat dan laut, tetapi gagal. Karena Mataram sudah memperkuat posisinya di hampir seluruh Jawa.
Untuk gambaran ringkas bagaimana situasi Jawa saat itu, pada tahun 1631 Mataram berhasil menaklukkan Sumedang – Jawa Barat, kemudian pada tahun 1633, di saat VOC sedang bertempur melawan Kesultanan Banten. Mataram mulai memperkuat pengaruhnya di timur Jawa dengan menyerang kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Blambangan. Raja Blambangan sempat meminta tolong kepada Brouwer untuk membantu mereka, tetapi ditolak karena VOC pun sedang berperang melawan Banten. Perang Blambangan berakhir dengan kemenangan Mataram pada tahun 1637.
Peristiwa penting lainnya adalah, ditangkapnya Kakiali di Hitu Ambon pada tahun 1634, dengan tuduhan menjual rempah-rempah ke kerajaan Gowa. Kakiali adalah pahlawan Hitu yang nantinya melakukan pemberontakan besar pada tahun 1640-an, beliau merupakan seorang Muslim dan pernah belajar agama Islam di Gresik Jawa Timur. Pada tahun 1635, Brouwer melakukan perjanjian dagang dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, juga pada tahun yang sama meresmikan kantor resmi VOC di Ayyutthaya (Thailand).
Pada tanggal 1 Januari 1636, Brouwer menyerahkan jabatannya kepada penggantinya Antonio van Diemen, pada tanggal 5 Januari 1636 Brouwer dengan menumpang kapal Amsterdam pulang ke Belanda. Dia menolak untuk menduduki kembali posisi Bewindhebber. Pada tahun 1642, Brouwer ditunjuk sebagai komandan armada Belanda untuk melakukan ekspedisi ke Hindia Barat (Benua Amerika) dan mendirikan cabang perusahaan VOC di sana, dengan nama West Indische Compagnie. Pilihan Brouwer saat itu antara Chili atau Peru yang waktu itu sudah diduduki oleh Spanyol. Pada tahun 1643, melalui rute Tanjung Horn dan selat Le Maire di selatan Chili, Brouwer menuju pulau Chiloe (Barat Chili) yang merupakan pulau terbesar kedua di Chili (Pulau terbesarnya adalah Tierra del Fuego) dan dibantu dengan Suku Indian Araucan, Brouwer berhasil mengambil alih kota Valdivia dari tangan Spanyol. Brouwer meninggal dunia pada tanggal 7 Agustus 1643 dan dimakamkan di Valdivia.


Keterangan Tambahan
1) Di Kepulauan Beacon ini, pada tanggal 4 Juni 1629 tenggelam kapal VOC “Batavia”, yang pada saat itu merupakan pelayaran perdananya dari Batavia menuju Amsterdam. Kapal ini kemudian diangkat oleh pemerintah Australia pada tahun 1970. Dan pada tahun 1995 dibuat replikanya persis seperti aslinya. Pada tanggal 25 September 1999, dilakukan pelayaran dari Amsterdam menuju Sydney (tempat reruntuhan kapal Batavia yang asli disimpan), dan kembali lagi ke Lelystad, Belanda untuk berlabuh dan hingga sekarang masih bisa dikunjungi.
2) Menurut situs Wikipedia, Roaring Forties adalah nama yang diberikan oleh pelaut untuk wilayah antara 40o - 50o lintang selatan, disebut demikian karena merupakan tempat yang berangin kencang dan kuat yang bertiup dari arah barat. Disebabkan tidak banyak daratan yang menyebabkan laju angin melambat, maka angin ini cenderung lebih kuat di belahan bumi selatan, terutama di selatan Samudera Hindia hingga Wellington, Selandia baru. Kekuatan angin ini kemungkinan besar yang diketahui oleh Hendrik Brouwer saat berlayar menuju Hindia pada tahun 1610.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?