Tuesday, February 07, 2006

 

Antonio van Diemen (1636 – 1645)




Antonio (kadang ditulis Anthony, Anthonij, Anthonio) van Diemen lahir di Culemborg, Belanda pada tahun 1593. Beliau merupakan anak dari Bartholomeus van Diemen dan Elisabeth Hoevenaar, yang merupakan walikota Culemborg saat itu. Pada tahun 1616 Van Diemen mencoba menjadi seorang pedagang di Amsterdam. Sebagai seorang pedagang, karirnya ternyata tidak begitu sukses dan pada tahun 1618 perusahaannya bangkrut. Tidak lama kemudian dia berkenalan dengan seorang tentara bernama Thonis Meeuzs yang juga pegawai VOC, van Diemen diajak bergabung sebagai pegawai di perusahaan tersebut. Kemudian setelah bergabung dengan VOC, van Diemen dan Thonis Meeuzs pergi ke Hindia dengan menumpang kapal Mauritius, dan pada tanggal 22 Agustus 1618 van Diemen mendarat di Banten.
Pada tahun 1619, van Diemen ditunjuk oleh Gubernur Jenderal JP Coen untuk menjadi seorang juru tulis (clerk) di kantor VOC di Batavia. Sementara itu Heeren XVII yang mengetahui latar belakang van Diemen, memperingatkan Coen bahwa Diemen pernah bangkrut dan tidak cakap dalam memimpin organisasi. Walaupun sudah diperingatkan, Coen tetap bergeming untuk mempekerjakan van Diemen karena Coen melihat talenta lain yang dimiliki oleh Antonio van Diemen. Perkiraan Coen terbukti, pada tahun 1623 pangkat van Diemen naik menjadi opperkoopman. Tahun 1626 sudah menjadi anggota Raad van Indië dan kemungkinan besar tahun 1629 menjadi direktur jenderal. Tahun 1630 van Diemen menikah dengan Maria van Aelts. Pada tahun 1631, dia pulang ke Belanda sebagai admiral armada kapal dengan kapal komando Deventer dan kembali lagi ke Hindia pada tahun 1633, dengan menduduki posisi sebelumnya di VOC sebagai Direkur Jenderal. Pada tahun 1633, dia ditunjuk oleh Heeren XVII untuk menggantikan Hendrik Brouwer sebagai Gubernur Jenderal. Dan pada tanggal 1 Januari 1636 dengan resmi van Diemen menduduki posisi Gubernur Jenderal.

Tugas seorang Gubernur Jenderal
Banyak sekali tugas dan peristiwa yang dialami oleh Antonio van Diemen selama menjadi Gubernur Jenderal, sedemikian pentingnya hingga setiap tahun jabatannya selalu ada momen penting yang tercatat dalam sejarah.

Pada tahun 1636, tahun pertama van Diemen menjadi gubernur jenderal, beliau sudah harus menghadapi resistansi dari kekaisaran Jepang. Pembunuhan dan pengusiran orang-orang kristen yang dilakukan oleh Shogun Tokugawa telah membuat van Diemen mengirim armadanya untuk melakukan evakuasi. Peristiwa lainnya adalah ditandatanganinya gencatan senjata antara Sultan Agung dari Mataram dengan VOC, dikarenakan Mataram akhirnya mengakui tidak dapat mengusir Belanda dari Jawa. Kebijakan pertama yang dikeluarkan oleh van Diemen adalah melarang korespondensi antar kerajaan di Indonesia tanpa melalui VOC, tujuan pelarangan ini adalah untuk mengontrol monopoli rempah-rempah yang dilakukannya di Maluku. Bulan Desember 1636, van Diemen menyiapkan pasukannya yang terdiri dari 17 kapal dan 2000 tentara untuk persiapan menumpas pemberontakan di Ternate.

Tahun 1637 diawali dengan serangan Belanda ke Ternate, pertempuran ini berakhir pada bulan Juni 1637, dengan dibebaskan-nya Kakiali dari penjara di Batavia. Kakiali sendiri begitu tiba di Hitu, segera memproklamirkan persekutuan anti Belanda bersama dengan Gowa dan Ternate. Pada tanggal 28 September, van Diemen mengirimkan duta VOC, Komandan Paulus Croocq, untuk bertemu dengan Sultan Jambi dan melakukan perjanjian dagang disana. Pada bulan yang sama juga van Diemen mengirimkan armada ke Ceylon memperkuat posisi VOC terhadap kekuatan Portugis

Tahun 1638 diawali juga dengan peperangan. Dengan dukungan Portugis, Gowa melakukan penyerangan kepada armada-armada dagang VOC yang berlayar melewati perairannya. Serangan ini juga serentak dilakukan oleh Kakiali di Hitu dan Ambon, sehingga untuk kedua kalinya van Diemen mengirimkan armada tempurnya. Dibawah pimpinan Adam van Westerworld, dengan kekuatan 12 kapal tempur dan 1650 tentara, mereka berlayar menuju selat Makassar dan bertempur dengan kerajaan Gowa pada tanggal 4 Januari, dan pada tanggal 21 Januari mereka menghajar kekuatan Kakiali di pantai Ambon. Pertempuran ini berakhir bulan Juli dengan korban 200 orang tentara VOC tewas. Sebulan sebelumnya, van Diemen mendapatkan kemajuan dengan ditandatanganinya persetujuan gencatan senjata antara Kerajaan Ternate, Tidore dan Jilolo (Halmahera). Peristiwa lainnya adalah suksesnya VOC menaklukkan Portugis di Ceylon pada tanggal 13 Maret, kemudian van Diemen mengangkat Willem Jacobszoon Coster sebagai pemimpin VOC di Ceylon

Tahun 1639, merupakan tahun yang lebih damai bagi Antonio van Diemen. Diawali dengan perjanjian gencatan senjata antara VOC dengan Sultan Banten, peristiwa ini terjadi pada bulan Maret. Pada bulan Juli, van Diemen harus menerima kenyataan bahwa cabang VOC di Hirado Jepang tidak aktif untuk sementara, menyusul dikeluarkannya perintah oleh Shogun, untuk melarang seluruh bangsa Jepang berdagang dengan bangsa asing. Tanggal 1 Agustus van Diemen melakukan pembenahan di Batavia dengan melakukan pembangunan rumah yatim piatu pertama di Batavia. Pada akhir tahun, van Diemen mengirimkan ekspedisi dibawah pimpinan Abel Janszoon Tasman dan Matthijs Hendrikszoon Quast, untuk menemukan rute baru di sebelah timur Jepang.


Tahun 1640, tidak banyak peristiwa pada tahun ini. Peristiwa yang cukup penting adalah pendirian Hollandsche Kerk, atau Gereja Belanda di Batavia (yang sekarang lokasinya adalah Museum Wayang), kemudian pengiriman armada sebanyak 17 kapal ke Malaka dibawah pimpinan Adriaan Antheunissen pada bulan November. Selain itu peristiwa lainnya adalah pergantian petinggi VOC baik di Indonesia maupun di pos-pos lain di benua Asia.

Pelabuhan Malaka


Tahun 1641 merupakan puncak kesuksesan Antonio van Diemen di mata Heeren XVII, dimulai dengan perjanjian antara VOC dengan sultan Johor, untuk membantu mengusir Portugis dari Malaka. Malaka sudah diduduki oleh Portugis semenjak tahun 1511, dan sejak September 1640 Malaka dikepung oleh armada Belanda dibawah pimpinan Minne Willemszoon Keerdekoe. Dengan bantuan kapal baru yang dikirim dari Batavia, akhirnya pada tanggal 14 Januari 1641 Malaka jatuh ke tangan Belanda, dan van Diemen mengangkat Pieter van den Broeck sebagai pemimpin VOC di sana. Setelah Portugis terusir dari Malaka, mereka mendirikan posnya di Gowa Sulawesi. Sebagai imbalan atas kesuksesan ini, Sultan Johor membuka lebar-lebar semua pelabuhan di pantai Riau kepada VOC.

Peristiwa penting lainnya di tahun 1641 adalah pemindahan markas VOC di Jepang dari Hirado ke Pulau Dashima, dan Belanda merupakan satu-satunya bangsa Eropa yang diperkenankan melakukan perdagangan di Jepang. Selain itu, VOC memperluas jangkauannya hingga ke kawasan Indocina, dengan mengirim berbagai utusan ke sana diantaranya Carel Hartsinck ke kerajaan Tonkin dan Cochinchina, G. van Galen dan Hendrik Hagenaar ke Kamboja dan G. van Wusthof ke Laos. Peristiwa lain yang cukup penting adalah Kakiali dan rakyat Hitu kembali memberontak kepada VOC.

Pada tahun 1642, van Diemen mulai berkonsentrasi ke pembangunan kota Batavia. Pada bulan Januari, beliau mendirikan sekolah latin dengan murid pertamanya sebanyak dua belas orang. Pada bulan Juli, van Diemen membuat undang-undang yang mengatur segala urusan di Batavia yang disebut "Bataviasche Statuten". Dalam Statuta tersebut berbagai peraturan ditetapkan, dan diangkat sejumlah pejabat, misalnya Rooimeester yang bertugas mengatur pembangunan rumah dan agraria di kota, Waagmeester sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap urusan tera dan metrologi dan Keurmeester yang bertugas menetapkan standar ukuran untuk semua barang-barang dari kayu, batu dan genting.

Tahun 1643-1644 adalah tahun-tahun ekspansi VOC dibawah perintah Antonio van Diemen, diantaranya adalah penjelajahan ke utara Jepang dipimpin oleh Maarten Gerritszoon Vries dan Hendrik Schaep mereka berhasil mendarat di kepulauan Kuril dan Sakhalin. Kemudian pertempuran laut antara armada VOC dengan kerajaan Kamboja di Ponumping pada tanggal 16 Juni 1644.

Antonio van Diemen meninggal dunia pada tanggal 19 April 1645. beberapa hari sebelum meninggal, tepatnya pada tanggal 12 April 1645, beliau menunjuk anggota Raad van Indie, Cornelis van der Lijn, sebagai penggantinya. Keputusan ini dilakukan tanpa sepengetahuan Heeren XVII. Heeren sendiri kaget dengan keputusan van Diemen menetapkan penggantinya secara sepihak, tetapi akhirnya Heeren menyatakan tidak masalah dengan keputusan van Diemen. Antonio van Diemen dimakamkan di Hollandsche Kerk, dimana dia juga yang membangun gereja tersebut.

Antonio van Diemen di Australia
Selain sukses membawa VOC menjadi serikat dagang terbesar di Asia bahkan mengalahkan Inggris dan Portugis, van Diemen juga dikenal sebagai pionir penjelajahan di benua Australia. Peristiwa ini bermula dari permintaan dia kepada Frans Visscher untuk merencanakan hal tersebut. Visscher membuat tiga rute berbeda ke arah selatan dan van Diemen menyetujuinya. Pada bulan Agustus 1642, dia mengirim Abel Janszoon Tasman untuk pergi menjelajahi daratan luas di selatan.

Pada bulan November 1642, kapal Tasman melihat sebuah daratan dan segera mendarat di daratan tersebut. Daratan itu kemudian diberi nama Van Diemen’s Land (Anthoonij van Diemenslandt), untuk menghargai pemimpinnya. Pulau itu kemudian diambil alih oleh Inggris pada tahun 1803, dan menjadikan mimpi buruk bagi rakyat Inggris, karena pulau itu menjadi tempat pembuangan narapidana Inggris seperti di Port Arthur dan Macquarie Harbour.
Nama Van Diemen’s Land kembali muncul saat pulau itu memiliki pemerintahan sendiri pada tahun 1855, keputusan akhir dari para anggota legislatif adalah merubah nama pulau itu dari Van Diemen’s Land menjadi Tasmania, walaupun begitu nama Van Diemen’s Land tetap dipakai hingga beberapa tahun kemudian.

Selain di Tasmania, Abel Tasman juga memberi nama tempat di sebelah utara Selandia Baru dengan nama Cape Maria van Diemen (istri van Diemen) yang ditemukan oleh Tasman pada bulan Januari 1643. Nama istri van Diemen juga dipakai untuk pulau kecil di timur Tasmania.
Antonio van Diemen dianggap sebagai salah satu Gubernur Jenderal yang paling berjasa bagi VOC dan Kerajaan Belanda karena itu banyak penghargaan yang diberikan kepada beliau, juga berbagai literatur yang menceritakan tentang kehidupannya baik di Belanda, Australia dan Selandia Baru, bahkan menurut Heuken, salah satu baluwarti di Batavia diberi nama Culemborg karena menghormati Antonio van Diemen. Baluwarti Culemborg hingga kini masih tegak berdiri, tepatnya dibawah Menara Syahbandar Pasar Ikan sekarang.


This page is powered by Blogger. Isn't yours?